Jadi cerpenis, "Yang dilupakan ingatan"

Kyaaa... Akhirnya bisa gambar rada mendingan juga, terhura aku tu๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜
Assalamualaikum๐Ÿ˜
Gimana kabarnya sob? Semoga kalian tetap sehat dan semangat menjalani new normal lifenya. Dan nggak bosen juga untuk terus mematuhi protokol kesehatan yang ada☺

Udah lama saya nggak nulis cerpen, kangen juga rasanya. Jadi hari ini saya mau mempersembahkan sebuah cerpen berjudul...

Yang dilupakan ingatan

Kadang orang kalau ingin melupakan, malah makin ingat, nggak tahu deh kenapa. Itu sebabnya banyak orang yang susah move on.
Mana nih orangnya?

Yang dilupakan ingatan

Wanita itu...
Aku tak mengenalnya.
Dia selalu menyelipkan bunga di telinga dan rambutnya yang hitam.
"Aku tak mengenalnya" Kupikir begitu.

Setiap kali melihatnya
Dia selalu balik menatapku. Bukan tatapan biasa, tapi tatapan penuh makna, tatapan yang penuh rasa sedih, kehilangan.

Aku tak pernah berani menatapnya lebih dari 5 detik, karena walaupun aku tidak percaya kata orang, tapi kepalaku berkata "sebaiknya aku mulai menghindarinya"

Suatu hari ketika aku sedang jalan-jalan pagi di taman, aku melihat wanita itu lagi. Ia sedang menyelipkan bunga mawar yang baru dipetiknya di taman itu. Warna merah yang tampak kontras dengan wajah putih dan rambut hitamnya.

Kenapa dia punya wajah secantik itu?

Lagi, mata kami bertatapan.
5 detik yang membuat jantungku berdebar.

Entah mengapa, kadang aku mendapatinya sedang memperhatikanku. Jelas-jelas sedang memandangku. Dia bahkan tak mengalihkan matanya saat ketahuan olehku.
Apa dia ingin mengenalku?
Tapi kenapa diam saja?

Aku pun tak pernah menyapanya selama 2 minggu sejak pertama aku melihatnya. Hidupku sudah cukup aneh, jadi aku tak perlu tambahan kisah aneh seperti berhubungan dengan seorang wanita yang aneh juga.

Bukannya aku kejam, tapi aku tidak suka repot.


Suatu hari juga saat aku berada di taman, wanita itu tiba-tiba saja datang menghampiriku. Wajahnya yang pucat tanpa polesan make up terlihat bercahaya dan senyum tipisnya tampak tak asing buatku.
Dia mengulurkan bunga mawar merah padaku.
  "Untukku?" tanyaku.
Dia mengangguk, "berikan padaku" katanya kemudian.
Aku tak paham maksudnya sampai dia menunjuk bunga mawar di tanganku lalu menyentuh telinganya.
Dengan kikuk aku menyelipkan bunga mawar itu di telinganya, merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin.
Sungguh, dia tampak cantik.
  "Ternyata kamu masih sama"
Dia pergi setelah berucap begitu.

Entah kenapa, kepalaku jadi pusing berhari-hari lamanya. Aku harus minum obat secara teratur dan berbaring seharian di kamar. Berhari-hari pula aku tak melihat wanita itu, tapi semua tentangnya, semua ucapannya di taman waktu itu terbayang terus di kepalaku.

Sebenarnya siapa dia?

Setelah beberapa hari sakit, aku akhirnya bisa menikmati lagi udara segar di taman. Hal yang pertama aku cari adalah wanita itu? Karena kurasa dialah penyebab sakit kepalaku. Aku berkeliling taman dan menemukannya duduk di ayunan sendiri.

Bisa kudengar degup jantungku saat menghampirinya, rasa hangat yang menjalar tiba-tiba ke seluruh tubuhku.
Dia melihatku sebelum aku menyapanya, menunjukan senyum manis sambil membenahi letak bunga di telinganya.

  "Kamu sudah sembuh?"
Dari mana dia tahu aku sakit?
  "Iya, aku sering sakit kepala"
Lagi-lagi dia tersenyum, namun senyumnya tampak dipaksa, matanya terlihat sedih.

  "Apa aku membuatmu sakit lagi?"
Sejujurnya saat ini pun pun kepalaku mulai berdenyut lagi.
  "Seharusnya aku lebih sabar lagi" tambahnya, sambil mengulas senyum di bibirnya, tapi bukan di matanya. Palsu, itulah yang kutangkap dari ekspresinya.
  "Apa kita pernah bertemu?"
Aku bertanya.
Dia memandang kakinya yang terbungkus sepatu putih.
  "Mungkin, menurutmu bagaimana?"
Aku tidak tahu, sepertinya dia mengenalku entah sejak kapan.
  "Aku tidak punya banyak ingatan. Mungkin lusa aku sudah lupa tentang percakapan kita hari ini. Apa kau adalah ingatan yang kulupakan?" 

Dia terdiam bersamaan dengan ayunan yang berhenti. Samar-samar kudengar hembusan nafasnya yang berat.
  "Apa pentingnya sebuah ingatan?" ditatapnya mataku, sepertinya dia sedang kecewa.
Apa karena aku?
Aku tak menjawab pertanyaanya. 
Aku berdiri dan duduk  di depannya, kuambil bunga yang terselip di telinga itu.
  "Bunga ini, pasti...aku pernah memberikannya untukmu. Entah kapan. Aku lupa" keselipkan lagi bunga itu di tempatnya.
Setelah itu aku meninggalkannya dan pulang. Mengurung diri di kamar selama seminggu karena sakit kepala hebat. 

Ketika kondisiku membaik. Aku pergi ke taman dan menemui wanita itu lagi. Wajahnya tampak lebih pucat, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukan kalau ia mungkin kesulitan tidur. Aku menghampirinya di ayunan itu.
  "Apa kabar?" tanyaku, membuka percakapan.
   "Apa kamu masih ingat aku?" dia balik bertanya.
Aku mengangguk.
  "Sejak kapan kamu menunggu?" kusentuh sehelai rambutnya.
  "Kali ini 6 bulan" 
  "Kenapa kamu tidak pergi?"
 Dia menggeleng "apa aku bisa? Tidak"
  "Kamu tersiksa karena aku tak mengingatmu"
  "Apa pentingnya sebuah ingatan" lagi dia mengatakan hal yang sama, tapi bukan pertanyaan.
  "Karena itu alasan kita saling peduli" mata kami saling bertatapan, mengungkap kenangan yang lama terlupakan
  "Kamu mungkin lupa, tapi tubuhmu tidak. Kamu selalu menatapku dengan cara yang sama, saat kamu ingat ataupun lupa padaku. Apa kamu sadar itu?"
Aku tersenyum, "aku mencintaimu" kataku pelan.
Dia tersenyum diiringi airmata yang leleh di pipi pucatnya. Kupeluk dia sambil menangis pula. Selama beberapa tahun terakhir aku terus melupakannya. Dan dia menungguku selama itu pula. Entah bagaimana bisa dia terus mencintaiku saat aku terus kehilangan bayangannya di dalam pikiranku. 
Tuju tahun lalu, saat kami baru saja menikah. Aku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan pada otakku. Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Sampai aku terbangun di pagi hari tanpa ingat siapapun, termasuk istriku. Dengan berat hati dia melepasku untuk berobat di rumah sakit, menjalani perawatan di sini. Setiap hari dia datang saat aku jalan-jalan di taman.
Ingatanku sepeti kaset rusak. Kadang aku bisa mengingatnya selama beberapa waktu dan melupakannya lagi dengan sangat mudah, tanpa sisa. Dan dia dengan setia terus berada di sampingku sebagai orang asing sampai aku mengigatnya. Aku menyuruhnya pergi, tapi dia selalu datang. Dia selalu bilang, masa bodoh dengan ingatan. Dia tahu bahwa aku tak perlu ingat untuk mencintainya, karena dia mencintaiku dan aku memang mencintainya.

Tamat

๐Ÿ™ˆ
Tutup muka dulu. Sumprit saya malu pakai banget bikin cerpen ini. Awalnya saya pikir udah bagus, eh, pas dibaca lagi kok rada gimana gitu. Saya kan nggak ahli dalam bidang perbucinan tapi bikin cerpen cinta begini. 
Tapi..tapi juga, mubazir kalau cuma disimpen jadi draft. Bagaimanapun ini adalah sebuah karya, siapa tahu ada yang suka.

See you....








26 komentar

  1. Sangat bagus cara berceritanya
    Cara dialognya juga ok punya.
    Wah kalau saya sebagai lelakinya, langsung nanya deh nomor WA nya. Tapi kira-kira dia punya nomor WA kagak ? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. Makasih mas, masih belajar nih๐Ÿ˜

      Hapus
  2. bagus kok ceritanya, gw suka percakapanya dan gimana mengekspresikan rasa yang ditulis.. seperti, apa pentingnya sebuah ingatan.. epik banget kata-katanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. Makasih mas, padahal saya sempet mikir, kayaknya ni cerita terlalu lebay dan ngebucin๐Ÿ˜‚

      Hapus
  3. Pertama-tama mau komen gambarnya, BAGUS MBA! ๐Ÿ˜† hehehehe. Jadi bisa membayangkan tokoh yang diceritakan dari gambar yang mba Astria buat ๐Ÿ˜

    By the way, saya bukan pakar cerpen, hanya suka baca tapi nggak tau soal tata cara pembuatan dan kaidah-kaidahnya. So, as pembaca menurut saya cerpen mba Astria sudah oke plus menarik untuk dibaca sampai selesai ~ dan tentunya saya bisa paham alurnya means ceritanya based on my standard sudah mantap syekali hohoho. Semangat menulisnya mba, ditunggu cerpen-cerpen berikutnya ๐Ÿคญ

    Untuk profesional komentar sila tunggu komentar dari master Agus Warteg, yah ๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiah, saya jadi tutup muka baca komentar mbak Eno. Malu, karena cerpen ku lebih jelek dari pada punya mbak Astria ini.๐Ÿ˜‚

      Hapus
    2. Makasih mbk eno๐Ÿ˜Š, Ah iya kudu tanya mas agus nih, gimana caranya bikin ending yang mengejutkan. Karena mas agus kan emang suka bikin para pembaca terkejoet pas ending ceritanya. Kasih tahu tipsnya dong mas...
      Ehe..he..๐Ÿ˜

      Hapus
    3. Oh tipsnya gampang saja mbak. Sering sering saja main petasan, nantikan terkejoet.๐Ÿ˜‚

      Hapus
    4. Ha...ha... Terkejoet macam apa itu, Yang ada jantungan mas๐Ÿ˜‚
      Tapi apa benar begitu๐Ÿ˜ฒ
      Kalau iya hebata banget mas agus.

      Hapus
    5. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Hapus
  4. Loh kenapa pakai acara tutup muka nahan malu, kak ๐Ÿ˜ฑ ? ..
    Lah wong ceritane apik koyo gitu kok ndak pede tow yooow ...

    Cuuz lanjutkan karya berikutnya ๐Ÿ˜‰

    BalasHapus
    Balasan
    1. He...he... Makasih dukunganya mas, kalau gitu saya nggak jadi tutup muka๐Ÿ™‰

      Hapus
  5. emm, coba bikin diwattpad , dik. disana rame juga pembaca nya . heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh.. Susah di wattpad mas, pernah bikin tapi nggak bisa lanjutin. Masih belum handal๐Ÿ˜‚

      Hapus
  6. Oh ternyata tokoh aku itu kehilangan ingatannya karena kecelakaan ya, bukan karena dilempar tabung gas melon karena ingin kawin lagi.๐Ÿ˜‚

    Syukurlah.๐Ÿ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk itu sih ustad satria๐Ÿ˜‚ apa jangan-jangan setelah dilempar tabung gas sama Rina trus ustad amnesia juga ya...

      Hapus
  7. Btw saya salah sebut ya kayaknya nama si gambar unyu itu, harusnya Mara'ah ya? bukan Ma'arah hahahaha.

    Cerpennya bagus kok, percakapannya mengalir banget.
    Saya jadi ingat, dulu saya paling suka baca buku atau sesuatu bacaan yang banyak tanda petiknya, itu menandakan banyak percakapannya.

    Percakapan itu jauh lebih ekspresif sih ketimbang digambarkan aja hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iye mbak, itu mara'ah... Salah menempatkan tanda ketiknya ya๐Ÿ˜
      Makasih mbk rey, memicu saya untuk terus berkarya nih....

      Hapus
  8. Hayuk PD sama cerpennya mbak. bagus banget kok, aku juga menikmatinya nih. ceritanya dapat, lucu2 haru gitu. xixixi

    BalasHapus
  9. Eh mbak Tri, setelah baca cerpen njenengan, request donk...coba bikin cerbung. Biar bisa rutin kunjung sambil harap-harap ngelanjutin baca cerita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah ada lho mas sebenernya, bisa cek di label. Tapi masih belum kelar๐Ÿ˜

      Hapus
  10. Uwuwuwu...jangan tutup muka mba astria
    Serius ini bagus banget
    Menurutku loh ya as pembaca aja hihi

    Diksi yang digunakan aku suka
    Diksinya beragam, indah dan pas aja menurutku. Kalimatnya juga efisien
    Walaupun ini genre romance tapi ga terlampau berbelit penempatan kata-kata bersayapnya. Sekali lagi kataku sih pas. Ga heran karena aku pernah baca komen mba astria yang dulu pernah bikin novel hihi

    Cerpen ini menggambarkan kesetiaan seorang istri yang tetap mendampingi suami di saat senang maupun susah, biar kata ditimpa ujian hilang ingatan pas manten anyar, tapi tetep sang istri ga patah arang dan berusaha memupukkan cinta suaminya lagi, walaupun dengan berkeping-keping kenangan yang telah lenyap sebelumnya...

    Bagus mba ๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, mbak mbul saja yang pernah jadi editor bilang bagus, berarti cerpennya memang bagus mbak.

      Ayo semangat.๐Ÿ˜„๐Ÿ˜Š

      Hapus
    2. Makasih mbak mbul...๐Ÿ˜Š tadinya saya pikir cerita ini enggak banget, sampai saya simpen di draft selama berbulan-bulan. Tapi dapat respon positif dari temen-temen blogger gini jadi seneng dan semangat buat berkarya lagi๐Ÿ˜

      Wah.. Mbk mbul pernah jadi editor ternyata๐Ÿ˜ƒ...
      Baru tahu saya.

      Hapus
  11. Bagus cerpennya mbak Astria.
    Bercerita tentang seorang lelaki yang amnesia tapi sang istri tetap setia menunggu. Judulnya juga bagus.๐Ÿ‘Œ

    BalasHapus


EmoticonEmoticon