Jadi novelis, "One Season" episode 3

O hay... Dari judulnya pasti sudah tahu kalau hari ini saya mau membagikan kelanjutan dari cerita saya yang berjudul "one season"
Saya excited banget ini. Berharap ada yang baca cerita karya saya melalui blog ini๐Ÿ˜Š

By the way nggak mau naik busway maunya naik helikopter, kemarin saya baru aja keliling dunia.
Yeye.... Lebih menariknya lagi saya keliling dunia pakai sikat terbang dong, yang sikatnya waarnaa-warni kayak pelangi.

Ha..ha.. Tapi boong๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Krik..krik...๐Ÿ™„

Daripada kelamaan ngomong, alangkah baiknya kalau saya langsung ke topik utamanya ya. Ini kayaknya udah pada ngantuk karena bosen.
wait..wait... seebelum baca ini mungkin bisa baca episode sebelumnya ya, biar nggak bingung

Jadi novelis "One season"
Jadi novelis, "One season" episode 2

One season

via.pixabay

Aku pulang ke rumah semalam yang aku bisa. Dan hari ini aku pulang pukul 12 lebih. Aku tidak ingin bertemu apalagi bicara dengan ayahku. Jangan anggap aku kejam. Karena kau pasti akan melakukan hal yang sama jika menjadi aku.

Saat aku berjalan melewati sebuah toko kecil sekitar 55 meter dari rumahku aku merasa ada yang mengikutiku. Aku menoleh ke belakang dan dia tidak bersembunyi sama sekali.

Gadis berkacamata itu....

Aku tercenung sesaat. Bingung, apa yang dilakukannya malam-malam begini....? Apa dia mengikutiku? Aku berbalik dan menatap gadis itu.
  "Hey...!"
Tapi dia malah menepi dan bersembunyi di balik pohon. Aku mengerutkan kening heran. Gadis itu mengintip, setelah tahu aku tetap berdiri di tempatku dia keluar dan berdiri tegak di tempatnya kepergok tadi.

Aku berjalan menghampirinya.

  "Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
  "Tidak ada." dia menggeleng sampai rambut poninya bergoyang lucu.
  "Lalu, itu tadi apa...?"
  "Aku mencari udara segar." Dia menjawab dengan tenang.
  "Di mana rumahmu?"

Dia menoleh ke mana-mana.

  "Di sana, eh tidak, di sana."

Jelas sekali kalau itu tidak benar, dia akhirnya diam saja seolah tidak melakukan kesalahan apapun. Aku ikut diam sambil memandangnya. Namun entah mengapa aku menahan tawa.

  "Sebaiknya kau pulang, ini sudah malam."
  “jam berapa?”
  “jam 12”

dia terdiam. Mungkin memandangku. Lalu tanpa pamit dan mengatakan apapun ia berbalik dan pergi.

Aku terpaku cukup lama di sana. Sampai gadis itu tak terlihat aku masih menatap jalan yang ia lalui. Aku merasa khawatir padanya, kenapa...? Apa karena bekal yang diberikannya padaku...? Apa karena kertas-kertas dengan tulissan itu...?

Aku tersadar, berjengit saat setetes salju menyentuh ujung hidungku. Sambil berlari aku meraptkan jaket dan pulang ke rumah.

•••••
Saat aku memasuki home & return aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari meja tempatku biasanya bekerja. Ada orang lain di sana.

  "Hay jame!" Tom mengangkat tanganya, menyapaku. Ia selalu tampak segar dan ramah pada siapapun.

  "Hay.." pandanganku masih terpaku pada sosok itu. Bukan karena aku terpana atau jatuh cinta pada pandangan pertama.

Konyol.

  "Ini putri Tn. Hery, kau baru pertama bertemu dengannya kan"

Prempuan itu tersenyum dan menjabat tanganku.

  "Jame"
  "Bella"

Pantas saja ia kelihatan begitu familiar. Ia punya warna mata yang sama dengan Tn. Hery. Atau mungkin juga karena hal lain, hanya saja aku tidak ingat hal lain itu.

  "Hari ini Tn. Hery tidak datang, tapi ia menyuruh Bella untuk menggantikannya jadi bos kita." Tom menyikutku. Kupikir dia suka pada Bella. Ya, dia memang cantik. Kulitnya putih dan rambutnya yang panjang terikat rapi di belakang.

*****
  Entah hanya dugaanku atau apa. Aku merasa Bella memperhatikanku sepanjang aku bekerja. Aku memergokinya beberapa kali menatapku,  tapi ia selalu mengalihkan pandangannya.

Hari ini toko penuh sekali aku dan Tom kewalahan melayani para pengunjung. Kami baru beristirahat saat jam makan siang itu pun karena kuenya sudah habis. Jadi, aku memutuskan untuk membersihkan jendela sebelum pulang.
Tepat sebelum pukul satu aku menyelesaikan pekerjaanku. Tom dan Bella menyuruhku untuk tinggal lebih lama, tapi aku menolak. Kubilang padanya aku masih banyak pekerjaan di luar.

Aku berjalan sambil mengamati beberapa orang yang sibuk membersihkan salju di jalanan. Mereka mengeruknya dengan sekop lalu membuangnya ke dalam tong besar di pinggir jalan. Udara masih terlalu dingin sehingga menciptakan genangan-genangan air yang membeku dan berbahaya untuk di lewati. Meski begitu jalanan kota masih sangat ramai, toko-toko penuh dengan orang yang asyik mengobrol seraya bercanda ria.

Aku berhenti dan duduk di sebuah halte kosong, tidak berniat untuk naik bis. Pikiranku sedang ruwet sekali. Aku harus segera pergi dari rumah itu, bagaimanapun caranya. Semalam aku bertengkar dengan ayahku. Dia memukul dadaku dan aku tidak membalasnya. Bahkan rasa sakit itu masih terasa sampai sekarang, dadaku terasa nyeri aku sudah melihatnya tadi pagi, sedikit lebam memang, tapi aku membiarkannya saja. Toh ini hanya satu luka dari luka-luka lainnya.

  "Apa kau sedang sedih...? Menangis..?"
Aku terlonjak kaget, berdiri dengan sikap waspada. Gadis berkacamata itu pun sepertinya sama, wajahnya pucat seketika, mulutnya separuh terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Aku masih memeggang dadaku. Menghela nafas panjang lalu kembali duduk.

  "Jangan menganggetkanku!"

  "Maaf" ia bergumam pelan. Menyaruk-nyarukan sepatu bootnya di tanah. Aku menatapnya sejenak. Meski bukan aku yang membuatnya kaget, tapi aku tetap merasa bersalah melihat wajahnya yang pucat. Dia mungkin hanya ingin menghiburku.

  "Kenapa kau selalu mengikutiku, maksudku.... kau selalu datang saat aku sendirian."
  "Karena kau orang baik."
  "Orang baik...?" Aku tidak pernah berpikir aku orang baik, aku bahkan tak pernah melakukan kebaikan. Jadi, apa maksud gadis ini.
  "Kau orang baik... boleh aku memanggilmu kakak?"

gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap lama padaku, tersenyum sumringah. Ada aura yang menyenangkan yang timbul saat ia tersenyum. Mau tak mau aku ikut tersenyum, senyum yang kemudian menjadi tawa ringan.
  "Ya, apa saja yang kau suka."
  "Trimakasih kakak."

Dia kembali memainkan salju dengan sepatunya. Sesekali begumam pelan seperti menyanyi aku mendengar beberapa kata yang digumamkannya seperti "salju" dan "musim dingin". Tiba-tiba dia berhenti dan menoleh padaku.

  "Boleh kulihat tanganmu?"

aku meyodorkan tangan kananku dengan rasa penasaran. Gadis itu mengamatinya sejenak, tampak serius. Ia lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah bulpen hitam.

  "Begini baru bagus." Katanya setelah menggambari telapak tanganku dengan gambar kepala berkacamatanya. Ia mengamati gambar itu seolah itu gambar yang sangat indah.

  "Sampai jumpa kakak" dengan cepatnya gadis itu berdiri dan menghilang dari pandanganku, ia berlari di trotoar dengan sangat cepat. Sementara aku mengamati gambar di tanganku itu sambil tertawa sendiri. Aku berhenti tertawa karena merasa aneh pada diriku. Lama tidak tertawa membuatku merasa tidak nyaman melakukannya.

****

  Pagi itu di mulai dengan hujan salju yang tidak terlalu deras. Jalanan di penuhi gundukan salju putih yang menjadikan kota ini seperti sebuah kertas putih. Anak-anak kecil bermain di depan rumah mereka, membuat boneka salju dan berperang dengan bola salju.

  Aku sedang berjalan menuju home & return. Masih jam 05.30 jadi aku tak mau tergesa-gesa. Hari ini kota sedang ramai sekali. Aku berhenti sebentar untuk membeli secangkir kopi hangat di sebuah toko yang dijaga seorang lelaki gendut.

Seraya menikmati kopiku aku mengawasi lalu lalang orang dari balik jendela kaca. Saat tiba-tiba saja gadis berkacamata itu mengagetkanku dengan muncul mendadak di balik kaca. Ia nyengir sambil menunjuk-nunjuk padaku. Setelah itu ia menghilang, kurasa ia sedang dalam perjalanan ke mejaku.

Dan benar saja gadis itu memang menyusulku, tapi yang membuatku bingung. Bagaimana dia bisa berpindah dengan sangat cepat...?
  "Selamat pagi...." dia menyapaku, tampak sangat bersemangat dan ceria.
  "Pagi, apa yang kau lakukan?"
  "Duduk." Dia baru saja meletakan tubuhnya di kursi.
  "Maksudku, kenapa kau ada di sini?"

Senyumnya makin mengembang, ia menopang kepalanya dengan kedua tangan di meja.
  "Karena kau di sini."
Aku hanya menatapnya sejenak lalu meminum kopiku lagi’
  “kau tidak bersekolah?”
dia menggelang kuat “aku bolos”
  “kenapa?”
  "karena…, aku mau bolos”


aku menghela nafas, gadis itu membuatku sedikit kesal. Aku putuskan untuk diam saja, setidaknya aku tidak memarahinya. Aku menghirup kopiku dan menghabiskannya dengan cepat. Bisa gawat kalau aku terlambat bekerja.

  "kau tidak bekerja?" dia membuka mulut juga akhirnya
  “sebentar lagi”
  “mau kutemani?”
  “tidak perlu”

Gadis itu menatapku saat aku berjalan untuk membayar kopiku, dia masih duduk di sana. Kupikir dia akan mengikutiku keluar jadi aku tidak memanggilnya, tapi saat aku menoleh ke belakang ia tidak ada.
Aku sudah melangkahkan kakiku untuk melihatnya, tapi kuurungkan.

Aku bisa terlambat bekerja, dan apa peduliku soal gadis itu.

Bersambung...






20 comments

  1. Serasa cerita suspense nih, Kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. he..he... saya kudu cari tahu suspense itu apa artinya ๐Ÿ˜, dan setelah saya cari tahu... ini karena belum tamat aja mbak makannya masih belom pasti

      Delete
  2. Siapa gadis berkacamata yang selalu mengikuti Astria ya? Apa mungkin penggemar beratnya kali ya.

    Baca cerpennya terasa di luar negeri, ada saljunya segala.๐Ÿ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya emang fans berat 5 kilogram saya mas... tapi siapa ya, karena pakai kacamaata jadi nggak kelihatan mulutnya

      bukan luar negeri mas, luar indonesia aja.

      Delete
    2. Wah lumayan tuh punya fans berat 5 ribu, apalagi kalo fans nya militan.๐Ÿ˜„

      Delete
    3. Wkwk militan apa yak, apakah saudaranya milea๐Ÿ˜
      Peace milea✌

      Delete
  3. Sebenernya bahasanya enak mba, tapi aku ga ngikutin dari awal jadi bingung. Emmm gimana kalo sebelum memulai cerita baru, ada penjelasan episode sebelumnya (udah kaya sinetron atau drama korea aja nih) ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. he..he.., makasih banyak. baca aja yang episode sebelumnya mbak (promosi ๐Ÿ˜)

      kayaknya penggemar drama2 korea nih.

      Delete
  4. Lalu gadis itu ke mana? Jadi penasaran kelanjutannya.

    ReplyDelete
  5. masih dipantau mba utk kelanjutan nya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oke mas, dipantau yang rajin ya
      He..he...๐Ÿ˜

      Delete
  6. wih bikin penasaran ceritanya, gw pikir gadis itu adalah ghost haha.. biasanya hantu-hantu di luar indonesia memang kayak gitu :D, btw gw belom baca cerita pertama dan keduanya, tapi dari cerita ketiga ini sudah sedikit alur ceritanya hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hantu luar lebih enak dipandang gitu ya, soalnya bule.
      Bisa jadi dia emang ghost, bisa jadi juga enggak...
      Tungguin aja kelanjutannya mas๐Ÿ˜

      Delete
  7. Yah bersambung. Ku kira endingnya bakal ketahuan eh blm juga. Hihi
    Ditunggu eposide selanjutnya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tungguin aja ya mbk ella... Masih panjanggg kelanjutannya๐Ÿ˜

      Delete
  8. Wah... bikin novel dong dan ternyat audah episode 3. Semangat Kak, pasti asyik nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He...he.. Iya iseng2 nih mbak, makasih cemungutnya๐Ÿ˜. Lanjut episode 4 kapan-kapan

      Delete
  9. Wah wah wahhh ini saingannya Mas Agus dengan Kang Sat nih, penulis cerber jadi novel hahaha.
    Tahu nggak sih, dulu tuh saya bercita-cita pengen nulis novel, saya pernah nganggur selama setahun waktu lulus STM, saya gunakan waktu itu untuk menulis, saya tulis pakai tangan dong, saking nggak punya komputer, udah dapat berlembar-lembar tuh, giliran udah punya komputer, eh tuh kertas hilang entah di mana, dan saya udah nggak mood lagi mau nulis novel gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah,sayang banget donk mbk.padahal udah capek-capek menuliskan ide di kertas sampai berlembar-lembar,pakai tangan lagi. eh kertasnya ilang....
      saya juga suka begitu dari dulu, alhamdulilahnya tu buku masih tersimpan dengan aman di kardus.jadi bisa baca kalau lagi bosen....

      Delete


EmoticonEmoticon