Jadi novelis "One season"

Ho..ho..ho..  Hay sobat semua.
Hari ini saya ingin membagikan sebuah cuplikan novel yang pernah saya bikin dan pengen saya kirim ke media. Tapi kok belum berani. Saya pernah bilang kalau saya pernah pengen jadi penulis, masih pengen sih. Dan dari dulu saya hobi banget coret-coret di kertas, bikin cerita ala novel gitu.

Cerita yang akan saya bagikan hari ini pun merupakan sebuah novel karya saya yang saya buat sekitar 3/4 tahun yang lalu.

nggak basa-basi...

Selamat menikmati.


One season




Episode 1



  Cerita ini bermula 10 tahun yang lalu.
Di musim dingin yang terlalu dingin bahkan saat kau sudah memakai 2 lapis baju hangat, syal, topi. Hawa dingin akan tetap menembus dan menyentuh kulitmu.

Seorang lelaki berjalan pelan di sepanjang trotoar bersalju itu. Uap keluar dari mulutnya saat ia bersenandung kecil. Bukan senandung bahagia, hanya kata-kata tak karuan yang kau ucapkan ketika sedang sedih untuk sekedar menghibur hati.
Itu aku. Aku yang sedang putus asa karena baru 1 jam yang lalu dipecat dari cafe tempatku bekerja. Padahal baru seminggu aku bekerja di sana. Aku melakukan yang terbaik meski hanya mencuci piring dan mengantar makanan ke meja-meja.

Dan semua itu berakhir karena alasan yang menurutku sangat tidak manusiawi.
Aku hanya menolong seorang gadis gelandangan yang kelaparan dan hampir mati di depan cafe itu, memberinya sedikit air dan makanan, juga syal yang sebenarnya milikku sendiri.
Tapi aku dipecat karena hal itu.
Alasan lainnya, karena harga air mahal, meski hanya segelas.
Sementara aku punya begitu banyak masalah lain yang mengitariku setiap hari.

Hidup tidak adil. Aku tak bisa tak mengucapkan kalimat itu karena kenyataannya aku selalu menderita. Aku menghabiskan 18 tahun kehidupanku dengan 1 kata yang sama setiap harinya. "Kosong"

•••••

Saat kau pulang ke rumah kau akan selalu mendapatkan kehangatan. Sambutan dengan senyum dari mereka yang menunggumu. Atau paling tidak kau bisa menghempaskan dirimu di atas ranjang dan tidur dengan perasaan lega.
Saat aku pulang ke rumah. Aku berharap itu bukan rumahku. Aku selalu berhenti 5 menit lebih lama sebelum membuka pagar. Menatapnya dan mengingat apa saja yang kulakukan di dalam rumah itu. Dan yang kuingat aku hanya pernah tidur di sana, dan tidak pernah merasa nyeyak.

Sepatu tuaku hampir tenggelam saat aku menginjakkan kaki melewati halaman luas rumah itu. Salju membuat tanah beberapa senti lebih tinggi dari yang sebenarnya, membuat rumah tua yang kehilangan cat itu semakin tampak dingin dan terpuruk. Aku mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, tapi lalu memasukannya kembali ke dalam saku, sedetik kemudian aku membuka pintu tak terkunci itu dengan pelan. Berjalan menuju kamarku.

  "Kau pulang" suara serak Ayahku menggema dari ruang tamu. Aku tahu ia di sana, tapi aku membiarkannya saja. Menatapnya sejenak sebelum masuk ke dalam kamar.
Aku menghempaskan badanku yang lelah di atas ranjang. Suara ayah berteriak di ruang tamu. Mencaciku. Memang itu yang selalu dilakukannya.
Jam 12 malam aku baru bisa tertidur.

•••••

Pagi itu cuaca sedikit bersahabat. Matahari bersinar redup di tengah udara yang dingin. Aku sudah keluar sejak pukul 03.30. Sengaja karena aku tak ingin berbicara atau bertemu dengan ayahku.
Saat aku berjalan melewati jembatan aku memandang air yang membeku di bawahnya, air masih mengalir di bawah lapisan es itu dan aku dapat melihatnya dengan jelas. Aku berjalan lagi, sesekali menggosokkan ke dua tanganku untuk mengurangi hawa dingin.
Beberapa remaja seusiaku tampak berlalu lalang di sepanjang taman. Maklum saja ini hari minggu, mereka pasti memanfaatkannya dengan bersenang-senang.
Bukankah mereka memang selalu bersenang-senang, apa sedihnya menjadi seorang remaja selain masalah cinta, patah hati, dan uang jajan yang kurang.
Sayangnya, aku bukan remaja seperti itu

Aku berhenti dan duduk di sebuah kursi panjang yang kosong. Mengeluarkan sebuah roti dari dalam tasku.
  "Pagi yang indah."
aku menoleh. Seorang gadis berkacamata hitam duduk di sebelahku. Aku membiarkannya dan melanjutkan sarapanku. Setelah ini aku mungkin akan mencari pekerjaan baru, semoga ada toko atau cafe yang memerlukan tenaga lebih. Jika tidak mungkin aku harus berpuasa lagi.
  "Apa yang kau makan...?"

  "Roti." jawabku tanpa melihatnya. Aku berharap gadis itu segera pergi dan membiarkannku menyelesaikan sarapanku. Sebenarnya sudah lama gadis itu selalu muncul tiba-tiba di dekatku tepatnya sejak awal musim dingin. Aku tak mengenalnya dan tidak tertarik untuk mengenalnya. Ia suka datang dan menghilang mendadak. Setiap kali muncul ada saja yang dikatakannya padaku dan jarang sekali aku menanggapinya. Alasan kenapa aku tak mengusirnya karena ia tidak berbuat usil padaku.
  "Kenapa kau memakannya...?"
  "Karena aku lapar." sahutku agak ketus. Memangnya apa alasan kau makan jika bukan karena lapar. Kecuali kalau makan memang menjadi kegemaranmu atau pekerjaanmu. Aku tetap tak memandang gadis itu.
  "Seharusnya kau makan nasi di pagi hari, itu lebih sehat dan mengenyangkan."
Andai aku punya nasi, tapi aku tidak punya.
  "Aku suka roti." jawabku kemudian. Gadis itu diam sampai aku selesai dengan sarapanku atau mungkin dia sudah pergi. Aku tidak tahu karena aku tak melihatnya sekalipun.
Aku menyandarkan kepalaku ke belakang dan memejamkan mata. Sejujurnya aku masih berharap bisa tidur beberapa menit sebelum mencari pekerjaan baru.  Semalaman ayah berteriak tidak jelas sambil menggedor kamarku beberapa kali, dan pagi tadi aku mendapatinya sudah tidur di depan tv.
  "Kau bisa mengambil punyaku."
aku merasakan sesuatu yang hangat diletakan di pangkuanku. Saat aku membuka mata aku melihat sebuah bekal dengan tutup bergambar winni the pooh di sana, Masih hangat. Aku memandang gadis itu, tentu dia yang memberikannya, tapi kenapa...? Aku mencoba melihat matanya seperti yang kulakukan pada orang lain saat aku penasaran pada mereka. Tapi gadis itu memakai kacamata, kacamata yang sangat gelap dan besar sampai aku tak bisa melihat sedikitpun matanya, aku justru melihat bayanganku sendiri di sana.
  "Oh..., aku terlambat."
ucapnya seraya melihat jam tangan mungilnya. Ia berdiri, membungkuk padaku setelah itu berlari tergesa-gesa entah ke mana. Aku berniat berteriak dan mengembalikan bekal itu, tapi mulutku hanya membuka dan menutup kembali. Aku tidak tahu namanya...
Aku putuskan tidak memakan bekal itu, akan kukembalikan jika nanti bertemu dengannya lagi. Aku memasukannya ke dalam tas, menyimpannya.

•••••

Salju lagi-lagi turun. Aku terjebak di depan sebuah toko yang ditinggal pemiliknya pulang, kedinginan dan lapar. Sudah sejam lebih aku menggosok-gosok tanganku di sini.
Aku belum mendapatkan pekerjaan karena semua toko ditutup saat aku sampai di kota. Rupanya mereka sudah tahu jika salju akan turun cukup lama dan aku tidak mengetahuinya. Sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk, aku harus menunggu salju ini berhenti dan bertahan agar tetap hangat.
Jalanan lenggang, tidak ada kendaraan berlalu lalang kecuali sebuah truk yang mengangkut beberapa orang yang nekad ingin pulang.
Sial, aku menggerutu kesal. Sepertinya sulit sekali bagiku unuk mendapat keberuntungan. Aku jadi teringat kejaian 5 bulan lalu saat aku dituduh mencuri di tempat kerjaku. Pemilik cafe itu meneriaku sangat keras dan mendorongku keluar dari cafenya setelah melayangkan 5 pukulan ditubuhku.
Aku menghembuskan nafas berulang-ulang, berusaha menghangatkan tangan yang sudah terasa kebas, gigiku bergemeletuk dan jaketku sudah terasa dingin. Aku lapar, perutku terus berbunyi sepanjang waktu.
Kemudian, Aku teringat bekal yang diberikan gadis berkacamata hitam padaku tadi pagi.
Bisakah aku memakannya?
Ragu-ragu aku membuka tas ku, mengeluarkan bekal itu. Aku menatapnya sejenak, perutku berbunyi lagi.




  "Aku bisa menggantinya jika aku punya uang nanti...." dengan keyakinan itu aku berani mengeluarkan kotak winni the pooh itu dari dalam tasku.
Nasi itu terasa sangat lezat di lidahku. Sudah lama aku tidak makan seenak ini. Aku menghabiskan bekal itu.
Salju berhenti turun saat jam 15.20.
Aku kembali berjalan. Tidak berniat pulang, mungkin masih ada beberapa toko yang baru dibuka dan aku bisa melamar pekerjaan di sana. Meskipun sebenarnya aku ragu akan hal itu. Kota ini bukan perkotaaan besar yang terlalu ramai, ini hanya tempat berkumpulnya orang-orang yang berharap ketenangan, karena itu ada banyak orang tua di sini. Ini juga adalah kota yang beberapa tahun lagi mungkin tak berpenghuni, tempat ini suram daan sepi.
Hanya ada satu toko yang dibuka. Aku berhenti di depan toko itu sebelum memutuskan untuk masuk. Nama toko itu sedikit aneh

"Home & Return"

Siapapun yang memiliki toko itu aku berharap ia orang yang baik dan memerlukanku untuk membantunya bekerja.
Saat aku memasuki toko itu seorang pemuda menyambutku sambil tersenyum ramah. Aku tidak melihat adanya pengunjung di toko itu, tapi mungkin karena cuaca sedang tidak baik.
  "Selamat datang." Ia berkata dengan senyum lebar, sebuah topi hitam menutupi kepalanya.
  "Aku sedang mencari pekerjaan."  Kataku langsung.
pemuda itu diam sejenak. Ia lantas menyuruhku menunggu dan ia sendiri masuk ke dalam sebuah ruangan lewat pintu di belakangnya.
Aku menunggu seraya mengamati toko tersebut. Ada banyak lukisan tua yang terpajang di dindingnya yang juga terkesan tua. Kursi-kursi di toko itu semua terbuat dari kayu, meja-mejanya dihias dengan sebuah vas bunga berisi setangkai bunga tulip. Kurasa bunga itu hidup.
Aku melemparkan pandanganku pada lemari kaca rendah yang dipenuhi macam-macam kue. Rupanya ini toko kue.
  "Hey! anak muda."
Aku berbalik. Pemuda yang menyambutku tadi kini berdiri bersama seorang lelaki tua. Aku menghampiri mereka. Kuduga lelaki tua itu pasti pemilik toko ini.
  "Kau mau bekerja...?"
Aku mengangguk. Lelaki itu mengamatiku cukup lama. Sementara aku hanya menatapnya, berusaha memberi kesan baik sebisaku.
  "Aku menerimamu, kau bisa bekerja mulai besok pagi."
Benar-benar keberuntungan, tidak ada pertanyaan lain selain itu.
Aku mengucapkan trimakasih pada lelaki tersebut, menjabat tangannya cukup lama. Ia tidak tersenyum padaku, tapi ia menepuk bahuku sebelum masuk melewati  pintu yang dimasuki pemuda itu saat menyuruhku menunggu.
  "Dia memang orang baik, kau beruntung bisa bekerja di sini, aku Tom." Ia mengulurkan tangan.
  "Jame." aku menjabat tangannya yang cukup berotot.
  “senang bertemu denganmu jame, jadi ini pekerjaan pertamamu atau pekerjaan sampingan?’’
  “tidak keduanya”
Tom mengangguk-mengangguk, mungkin paham bahwa aku enggan menjawab pertanyaannya.
  "kalau begitu, Sampai bertemu besok pagi, kau harus sudah berada di sini pukul 6 pagi."
Aku mengangguk singkat. Keluar dari toko tersebut dengan perasaan lega.

bersambung....

kelar juga, sebenarnya saya malu mau membagi cerita ini. Tapi daripada numpuk di draft dan nggak ada yang baca mending saya share di sini kan
he...he...
akan saya sambung lagi kapan-kapan

see you....


8 comments

  1. Gambarnya kok mirip Frozen ya? 🤔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk... Saya juga mikir begitu😂
      Tapi saya suka sih

      Delete
    2. Itu karakter Elsa apa Anna atau Astria ya? 😂

      Delete
    3. Sepertinya, campuran ketiganya😂

      Delete
  2. Pikiran saya saat baca ini: ok kita di mana? salju. di eropa atau di korea atau jepang? pas ke bawah namanya tom ama jame. ok, mereka di barat.

    dikirim aja mba ke medianya. gak usah ragu. kita tidak pernah tahu kalo tidak mencoba! semangat! tak follow blognya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. He..he.. Makasih mas, awalnya saya bikin saya juga nggak tahu latar tempatnya dimana. Saya cuna bayangin aja. dan kenaoa namanya itu? Karena waktu itu emang kepikirannya itu aja...

      Delete


EmoticonEmoticon