Jadi cerpenis "Aku dan wanita itu"

Hay sob... Hari ini gimana kabarnya, sehat kan ya...
Ah, basi banget nanyanya.
He..he.. Hari ini saya akan mempersembahkan sebuah cerpen lagi. Cerpen ini juga salah satu dari cerpen saya yang pernah dikirim ke media tapi nggak ada kabar sama sekali. Sedih banget­čś×
ditolak itu kan sakit, apalagi nggak dikabarin, sakit juga euy.
apalagi cari obatnya di apotek kagak ada yang jual
ha...ha...

Saya harap cerpen ini menghibur sobat semua ya...
Kebetulan akhir-akhir ini saya juga lagi bad mood banget... Nget.. Nget..
Dimana kalau lagi bad mood otak saya mogok, kagak mau diajak mikirin artikel apa yang mau dibuat besok, maunya rebahan mulu, maen hape mulu, youtuban mulu.
Ah, dasar aku minta ditabok

Aku dan wanita itu
Via.we heart it

Dia masih menatapku, wanita dengan mata lebam sebelah, pakaian kumal dan tatapan yang kuartikan sebagai tatapan putus asa.
Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana, berdiri kaku dengan sorot matanya padaku.

Tak bicara apapun.

Biasanya dia baru akan duduk saat aku duduk duluan.

  "Aku lelah..." mataku terasa panas, aku berjalan pincang mendekati wanita itu, menyentuh telapak tangannya yang sedingin es. Kulihat tetes demi tetes air mata menuruni pipi pucatnya.

  "Kau pasti paham rasanya bukan"

Lalu kami menangis bersama, berjongkok di atas rumput hutan sebelum malam menelan pandangan.

Mungkin setahun yang lalu kami bertemu, dia bisu, tak pernah bisa mengatakan siapa namanya padaku. Badannya selalu kotor dan raut wajahnya terlihat penuh penderitaan. Kala itu ia menagis, tak perlu  mendengar penjelasannya, aku tahu ia kesakitan.
Karena sama-sama bernasib buruk, entah bagaimana kami menjadi kawan yang dekat.
Aku mulai menceritakan kisahku padanya. Tentang perempuan tua yang selalu memukulku dengan cambuk kesayangannya. Yang terus memakiku, tak memberiku makanan walau aku hampir mati kelaparan.
Setiap kali bercerita dia pasti ikut menangis, seolah tahu bagaimana perasaanku.

Aku pun tak bisa menyebutkan siapa namaku, karena wanita tua itu selalu memanggilku "sialan", seumur hidupku. Aku hanya mengenal wanita tua itu, aku tidak pernah melangkah jauh dari rumahnya yang selalu dikunci rapat, sesak dan pengap. Namun sejak dulu aku tahu bagaimana caranya keluar dari rumah itu untuk sekedar menghirup aroma hutan yang lebih segar. Aku tak berani lebih jauh, kakiku selalu gemetar tiap kali ingin kabur.

Tapi malam itu, aku berlari sekuat tenaga, bertekad akan benar-benar kabur, kuabaikan luka-luka berdarah di kedua lenganku, sakit yang terasa sesak di dadaku mendorong kakiku terus bergerak. Aku tidak betah hidup dengan wanita tua itu. Tubuhku sudah hancur, darah yang mengalir setiap hari membuatku meringis kesakitan bersembunyi dalam lemari untuk mencegahnya membunuhku.

Argh....
Bruk...

Aku terpeleset, tubuhku ambruk, jatuh ke tebing dan bergulingan. Ketika mendapat kesadaranku lagi, aku dikejutkan oleh sesuatu.
Mataku melebar, masih terbaring telentang di tengah gelapnya hutan.

Mataku untuk pertama kalinya, melihat bulan.

Seperti lampu raksasa, cahanya terang dan lembut, menyentuh tubuhku yang penuh luka. Aku memandanginya dalam kagum, dalam tangis tanpa suara.

Aku tidak tahu jika hanya dengan melihat bulan aku bisa merasa terharu, rasanya seolah dunia gelap yang selama ini kutinggali akhirnya bercahaya.

Sekian menit berlalu, aku pun bangkit dengan sisa-sisa tenagaku,  berlari lagi.

 Aku harus mengatakan ini padanya.

Lihat....

Dengan nafas ngos-ngosan, aku menghampirinya. Dia tampak senang sekali ini, sebuah senyum tersungging di bibir pucatnya.

  " kau lihat itu, itu bulan, indah bukan" aku menunjuk-nunjuk langit dengan antusias.

  "Aku ingin bisa menyentuhnya, cahanya lembut dan menenangkan...." kupejamkan mataku.
  "Jika bisa, aku juga ingin melihat matahari, kau tahu matahari? Matahari itu jauh lebih terang dari bulan, adanya hanya di siang hari. Tapi hutan itu terlalu gelap dan luas, jadi rasanya mustahil kalau bisa melihat matahari terbit dan terbenam."

 Aku terdiam lagi, memejamkan mataku dengan maksud menikmati cahaya bulan.
  "Apa suatu hari nanti kau mau ikut aku melihat matahari terbit?"

Hening.

Aku menatapnya, melihat senyum yang kuartikan sebagaj persetujuan.

  "Kau harus janji padaku ya"
kami saling menyentuhkan telapak tangan seperti biasanya

"setelah melihat matahari tanganmu tidak akan sedingin ini"

*****

Tapi tak lama setelah itu aku menangis, memohon ampun karena wanita tua itu melihatku yang masuk dari lubang di pagar belakang, ia mengejarku dengan cambuknya, memukulku lagi. Aku yang tak berdaya hanya meringkuk di atas dinginnya rumput belakang rumah. Antara sadar tak sadar sampai wanita itu kelelahan dan masuk dengan terbungkuk-bungkuk. Beginikah akhir hidupku? Apa aku akan mati? Bagaimana dengan nasibnya? Dia akan kesepian tanpaku.

Aku berdiri dengan susah payah, sekali lagi menatap cahaya bulan yang menerobos pepohonan.
Aku sudah lelah, sudah mencapai batasku.
Aku ingin pergi, akan lebih baik jika aku mengakhiri ini semua bukan, aku membencinnya, wanita tua itu harus...

Tanganku terkepal, benda itu berkilat dibalik punggungku, gemetar menyelimuti tubuhku yang berjalan dengan kaki pincangnya.

Baca juga : Kisah si pria gila

Baca juga : LEE (Cerpen)

Wanita tua itu terbaring di atas kamarnya matanya terpejam, wajah keriput penuh bintik hitam yang tak pernah kuperhatikan sebelumnya.
walau begitu aku tetap sangat membencinya.
Dengan gemetar aku menarik pisau dari balik punggung.

  "Selamat tinggal..."

Tertatih-tatih aku kelur dari rumah itu. Nafasku tak beraturan lagi, aku sudah lelah berlari, aku hanya akan menemuinya. Aku akan mengajaknya mencari matahari terbit, agar tangannya bisa hangat, aku akan menuntunnya. Kutatap tanganku yang bersimbah darah....

Aku akan melihat matahari terbit dengannya.

  "Apa, yang terjadi?"

langkahku terhenti begitu melihatnya. Penampilannya kacau, darah memenuhi tubuhnya, bajunya kini berwarna merah. Ketakuatan mendadak menyergapku. Dia yang biasanya tampak menderita sekarang hampir seperti makhluk mengerikan.

  "Jangan mendekatiku" apa yang kulakukan, kenapa aku takut padanya, kenapa aku benci melihatnya berlumuran darah, lalu kuamati pisau yang tergenggam di tangannya. Apa dia juga berniat membunuhku?
Aku mundur lagi, ketakutan sekali, kesakitan. Kuraih batu besar di sampingku dan melemparkannya sekuat tenaga, tepat mengenainya.
Tubuhku lemas, dia hancur... Tak terlihat lagi, aku merangkak, menyentuh serpihan tubuhnya. Apa yang kulakukan?

Aku membunuhnya....?

Tak tentu arah, aku hanya berjalan sampai kakiku mati rasa, tak perduli dengan perih yang kurasakan. Ingatanku berputar mundur, mengingat hari-hariku sebelumnya, tak ada kenangan indah. kecuali satu hari dimana wanita tua itu pernah menyisir rambutku dan mengikatnya dengan lembut, hari dimana dia tersenyum dan bilang padaku untuk pergi. dan sekarang kuputuskan untuk meninggalkan wanita tua itu hidup sendirian.

Baca juga : BUJO (cerpen)

Akhirnya sampailah aku di tepi hutan. Masih agak gelap, aku berjalan menuju tebing tinggi, menatap luasnya langit di depanku. Inikah yang namanya bebas? Rasanya tak ada batas yang menghalangiku. Hawa dingin dari angin. Yang bertiup pagi itu meluruhkan seluruh perasaan buruk dalam diriku. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa keluar dari hutan itu.

 Samar-samar aku melihat cahaya matahari dari balik bukit. Bergerak perlahan.

Oh, itukah matahari terbit? Apakah aku berhasil menemukannya?
Detik-detik berlalu, senyumku mulai mengembang seiring tingginya sang matahari, menyelimutiku dalam perasaan hangat. Kusentuh rasa perih diperutku, sudah sangat sakit, aku terkejut, pisauku terjatuh. Rupanya pakaianku pun sudah berwarna merah.
Aku memejamkan mataku lalu menunduk. Di bawah sana air danau tampak jernih sekali.

  "Apa itu kau, kau ikut denganku?" aku berjongkok, mencoba mengamati sosok di danau itu, sosok yang kukira sudah mati kubunuh. Tapi Itu dia, dia tidak mati, dia mengikutiku dan menungguku di danau sana.
  "Kau melihatnya bukan? Itu matahari terbit...." aku sangat bahagia, tersenyum sumringah, begitupun dia.
  "Kita akan melihatnya bersama, aku akan turun menjemputmu"
Aku tersenyum dan melompat ke dasar danau.


Begitulah cerpennya berakhir. Mungkin ini adalah salah satu langkah yang harus saya lalui untuk sampai ke tempat tujuan. Nggak baik bukan memandangnya sebagai kegagalan.

Yah, walaupun saya memang sedih, tapi harus tetep semangat. Kalau nggak semangat, paksa dikit biar nggak berhenti di tempat.

Salam semangat sob, jangan lupa makan, minum, dan yang terpenting jangan lupa bernafas ya....

See you....









6 comments

  1. Daleeem ih, semangat trus yaa.. Bagus cerpennya

    ReplyDelete
  2. Bagus sekali cerpennya, kok bisa tidak dimuat sih, apa mungkin lagi khilaf kali orangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ha..ha...mungkin emang belum rejekinya mas....
      senyumin aja deh

      Delete
  3. Mbak Punya bakat nih dalam menulis cerpen. Coba deh dikirim ke Majalah atau situs - situs lainnya , siapa tahu...banyak yang minat.Trus kebanjiran orderan deh.Heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pengennya gitu kang nata, tapi udah dicoba dan sejauh ini masih gagal
      ha...ha...

      Delete


EmoticonEmoticon