Jadi penulis "Petrichor"

Petrichor



Bahkan diantara banyaknya orang di sana, kamu bisa menemukan dia. Wanita paling spesial buatmu. Tawa yang selalu kalian bagi selama beberapa tahun ini diam-diam menumbuhkan perasaan lain di hatimu, kamu mungkin menyangkalnya, tak mungkin, tak boleh, tapi tanpa sadar memang itu adanya.

  "Makan siang bareng?" kamu langsung bertanya setibanya dia di depanmu.
  "Laper" dia menganguk dengan ekspresi yang membuatmu gemas, kamu tertawa mengacak rambutnya.

Kalian selalu makan siang bersama, dengan 2 menu berbeda yang selalu kau hafal. Sesekali dia akan menyuapimu atau sebaliknya, diselingi tawa keras dan tingkah konyol yang melekat dalam ingatanmu.

Oh, namanya silvi. Pemilik mata bulat yang membuatmu terdiam saat pertama menatapnya. Seperti sihir, mata itu selalu membuatmu terpaku pada satu titik, satu keinginan, untuk membuat pemiliknya selalu tersenyum, walau mungkin itu semua butuh pengorbanan.

Bagaimana bisa? Kamu bertanya pada dirimu, namun seringkali hanya berakhir dengan helaan nafas berat.

Kir-kira 5 tahun lalu saat kamu berjalan di koridor kampus untuk pertama kalinya setelah lulus SMA, seseorang menabrakmu dan menjatuhkan tumpukan buku di kakimu. Kamu sudah menyiapkan berbagai umpatan, kesal karena harimu sudah cukup sial setelah kehujanan dalam perjalanan ke kampus, namun begitu kamu melihatnya....

Jantungmu berdebar.

Silvi adalah senior di kampusmu, kamu sungguh terkejut saat pertama mengetahuinya, kamu pikir kalian sebaya karena tubuhnya yang mungil dan wajah yang selalu ceria seperti gadis belasan tahun.
Hanya terkejut, kamu tetap sering mencuri pandang padanya, lalu kalian menjadi dekat saat ada kegiat sosial di kampus. Seperti dugaanmu silvi adalah wanita yang baik, matanya menatap dengan cara yang berbeda, melihat kebaikan dalam banyak hal buruk dan tak berguna. Selama bersamanya kamu tak pernah merasa sepi.

Kalian menghabiskan hari-hari bersama layaknya sepasang kekasih, menceritakan hal-hal sepele dan serius, kamu bahkan memeluknya saat dia menangis.

Lalu suatu hari. Di sore yang mendung dengan gerimisnya, kamu melihatnya bergandengan tangan dengan lelaki lain. Tawa yang bisanya kamu lihat itu ternyata bukan untuk dirimu. Bunga yang kau siapkan di balik punggungmu terlempar ke tempat sampah dengan langkah tergesamu untuk pulang.

Hari itu kamu patah hati, tanpa pernah mengatakan bahwa kamu sudah jatuh cinta padanya, rasanya bahkan lebih sakit.

"Cinta tak harus memiliki"
Mungkin kamu mencoba mempercayai kalimat itu setelah mencoba membencinya dan gagal. Kamu putuskan untuk cukup menjadi sahabatnya.

  "Makan tuh jangan belepotan dong sil" kamu mengusap saus di tepi bibirnya.
Silvi terdiam sesaat mengusap mulutnya dengan tisue.
Kadang kamu merasa silvi juga memiliki rasa padamu, walau itu mustahil.
  "Laper dit" silvi melanjutkan makannya dengan lahap, sementara kamu sudah kenyang, berpura-pura memainkan handphone namun sebenarnya memperhatiakan dia.

Pasti akan terasa berat jika suatu hari nanti kamu harus benar-benar melepasnya, menyerahkannya pada lelaki lain yang lebih dicintainya, akan terasa sesakit apa lagi?

Pikiranmu melayang pada hari dimana kalian terjebak di tengah hujan deras, mobil mogok, dan sudah tengah malam. Waktu itu kalian menghabiskan malam dengan bercerita di dalam mobil, menceritakan hal-hal yang tak pernah kalian bahas.

Baca juga : Kisah si pria gila


Silvi tertidur, dengan kamu yang terus menatapnya. Saat itu tanganmu terulur untuk mengusap rambutnya, tiba-tiba dia membuka mata. Kalian bertatapan selama beberapa detik.
Harusnya sejak saat itu dia tahu bahwa kamu mencintainya, tapi dia tetap tak berubah, memperlakukanmu sebagai sahabat.

  "Kamu kapan nikah?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutmu.
  "Nikah? Kamu tahu dari mana?"
Ternyata benar, silvi bahkan tak menyangkal.
  "Aku tahu" kamu memalingkan wajahmu, mencoba menekan emosi yang mendadak menyeruak, rasanya kamu ingin memukul sesuatu sekarang.

  "Bulan depan"

Secepat itu? Kamu tak bicara lagi begitu juga dia. Kalian terdiam dalam keheningan di sore itu, di depan kampus, dengan langit mendung dan gerimis yang mulai berjatuhan, hujan lebat turun dengan cepat, sepatumu basah terkena cipratan air. Kalian sedang berdiri di pinggir gedung, menatap langit dan hujan.
  "Sil, pernah dengar soal petrichor?"
Dia menoleh.
  "Nggak, aku kan nggak suka baca buku kayak kamu."
  "Mau aku jelasin?"
  "Hem"
  "Petrichor itu, aroma yang tercium saat pertama kali hujan turun setelah musim kemarau, kamu pasti pernah mencium aroma itu kan. Dulunya aku benci dengan aroma itu, tapi semenjak kenal kamu, aku jadi suka"
Kamu tak tahu apa kamu sedang mengungkapkan perasaanmu, dan bagaimana reaksi silvi. Kamu hanya ingin bicara sebelum tidak bisa lagi. Cukup sampai disini perasaanmu, kamu harus menghentikannya sebelum kalian berpisah.
Kamu menoleh menatap silvi yng tengah menatapmu dengan wajah kaget yang menurutmu lucu.


  "Sebenernya, aku suka kamu" lega rasanya, semua hal yang kamu pendam selama ini menguap dalam 3 kata itu. kamu tersenyum lalu entah keberanian dari mana, kamu mendekatkan wajahmu padanya dan mengecup pipinya sekilas. Kamu anggap itu sebagai salam perpisahan.
Setelah itu kamu berjalan pergi, menembus hujan, meninggalkan dia di belakang.

Bersambung...


Kapan ya mau dilanjutkan🤔
Entar aja deh, kalau udah dapat lampu di kepala😁
saya kadang bingung kalau nulis cerita cinta gini, soalnya nggak paham betul gimana rasanya. takut kalau bikin yang baca bukannya baper malah mual, kan nggak lucu.

See you...

6 komentar

  1. wah, karya nya benar-benar mantap ya mbak, saya tunggu kelanjutannya, salam kenal

    BalasHapus
  2. up terus dek, tulisannya. heheh. jangan lpa pembayaran domainnya tld

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. Diingetin terus sama mas fajar, nggak mungkin lupa dong😂😂😂

      Hapus


EmoticonEmoticon