Jadi cerpenis "Pemuda kampung dalam foto hitam putih"


Jadi cerpenis "Pemuda kampung dalam foto hitam putih"

Hay... hay....
akhirnya saya kembali dengan sebuah cerpen, nggak bawaa oleh-oleh nggak papa ya. udah lama kan saya nggak bergaya jadi penulis. He...he...😁

(Akhir-akhir ini gayanya jadi orang susah mulu👱)
Itu susah beneran yul...

Hari ini pun saya mempersembahkan sebuah cerpen bermoral yang saya tulis pas pertama kali beli laptop.
Kan pas pertama beli laptop dulu, kerjaannya nulis mulu, tapi nulis cerpen bukan artikel buat blog wkwk😂
Ada banyak banget tulisan yang mau saya kuras, biar nggak mubazir dan memenuhi draft.
(Biar nggak DBD juga👱)
Itu kalau nguras air yul😑

langsung aja daripada kelamaan dan bikin mual pemirsah, 
monggo dibaca ceritanya....

Pemuda kampung dalam foto hitam putih


Via.weheartit
Dulu dalam foto hitam putih itu, namaku adalah Galih. Pemuda 17 tahun asal kampung yang bersekolah di kota karena beasiswa. Sebuah keberuntungan bagiku.

Masih kuingat perasaan, bau, bahkan udara Jakarta kala itu. Dengan senyum sumringah aku menenteng tas besar di tanganku, juga beberapa sayuran yang ibu bawakan dari kampung, kuamati setiap aktivitas selama aku berjalan menuju asramaku, dalam hati aku sangat bahagia karena dengan cara inilah aku bisa mengubah nasibku dan orangtua di kampung.
"Selamat datang" bisikku pada diri sendiri.
Waktu itu Jakarta tak semodern sekarang, tapi tetap saja bagiku yang berasal dari pelosok, benda-benda di sana teramat mahal dan berkelas. Aku tak pernah membeli apapun selama 2 bulan pertama tinggal di sana. Selalu kuingat kata emak untuk menabung uangku, dan berhemat, aku tahu bukan karena emak pelit, jika aku mengabarkan padanya uangku habis ia pasti akan melakukan apapun untuk mengirimkanku uang lagi. Tapi aku tak mau emak yang sudah tua dan mengurus 4 adikku di kampung akan semakin kecapekan, ditambah kondisi bapak yang asmanya sering kambuh. Masih sering aku menangis selama shalat tahajud memohon kesehatan bagi orangtua dan adik-adikku di kampung.

Selama kelas 10 aku adalah anak dengan prestasi yang baik, aku mengikuti banyak lomba dan berhasil membawa piala kebanggaan bagi sekolahku. Aku, si pemuda kampung dengan cepat menjadi bintang baru di sekolah, aku bahkan seringkali menghiasi koran karena prestasiku. Awalnya aku tak terlalu peduli dengan kata populer itu, tujuanku adalah belajar. Jika aku menjadi populer maka itu kuanggap bonus.

Aku termenung sesaat, membuka lembar selanjutnya. Seorang gadis tersenyum dalam foto hitam putih itu, senyum yang manis.

Suatu hari, mungkin sekitar pukul 6 pagi. Seperti biasa aku sudah tiba di sekolah, namun ada yang berbeda dengan hari itu. Koridor menuju kelasku yang biasanya sepi dan kosong, pagi itu diisi oleh seorang gadis yang berdiri menghadapku. Aku menatapnya dengan pertanyaan dan ragu untuk menyapanya.
  "Selamat pagi" kataku akhirnya, ia tersenyum.
Ketika aku sudah melewatinya tiba-tiba dia memanggilku.
  "Kak Galih..."
  "Iya?"
  "Untuk kakak" Sebuah kotak biru tua disodorkannya padaku.
  "Untukku?" kataku tak percaya.
Ia mengangguk 2 kali, lalu berlari meninggalkanku yang masih kebingungan. Itu adalah pertama kalinya aku mendapat hadiah dari seorang gadis yang entah bagaimana aku jadi tersenyum sepanjang hari. Ketika aku menceritakannya pada temanku ia bilang aku sedang jatuh cinta.

Dua bulan setelah itu, aku dan dia resmi berpacaran. Namanya Gita, ia gadis yang baik dan juga pintar, kami sudah beberapa kali ikut lomba bersama. Tentu, aku menjadi lebih bersemangat.

Di samping foto gadis itu, masih dalam warna hitam putih ada aku dan 3 orang temanku, entah apa mereka bisa dianggap teman.

Sampai kelas 11 aku tetaplah Galih si anak yang pintar. Namun entah kenapa ketika kenaikan kelas aku hanya mendapat peringkat 2. Mungkin bagi kalian itu sudah prestasi yang bagus. Tapi bagiku peringkat dua seperti kehancuran. Aku kecewa pada diriku sendiri, apa yang salah, apa aku kurang belajar? Beragam pertayaan memenuhi kepalaku.
Namun bukannya menemukan jawaban aku justru semakin kecewa. Di tengah kegagalanku itu, entah bagaimana aku menerima ketika suatu malam temanku mengajakku untuk pergi.

Diskotik.
Telingaku tak asing dengan kata itu, tapi kakiku sama sekali tak pernah menginjaknya. Selain agama melarang, tempat itu juga hanya membuang uang. Lalu kenapa aku ada di sana?
Suara musik yang keras menyambut telingaku, ditambah dengan bau alkohol yang sejujurnya membuatku pusing. Ketika itu aku berpikir untuk keluar, tapi lagi-lagi temanku menarikku semakin ke dalam. Di tengah keramaian itu, aku merasa tersesat dan bingung. Temanku sudah hilang entah ke mana dengan seorang wanita setelah mengatakan padaku untuk bersenang-senang.
Aku masih berusaha mencari pintu keluar dengan menerobos hiruk-pikuk itu. Dan tak menemukannya, aku justru menemukan temanku yang sedang mabuk. Dia menarikku menyodorkan segelas bir dengan tubuh terhuyung sehingga setengahnya tumpah ke lantai. Tentu saja aku menolaknya, bukan ini tujuanku ke Jakarta. Namun mereka justru mengroyokku, memaksaku meminum bir itu.

Pagi itu aku terbangun dengan kepala luar biasa pusing, tidak pernah aku merasa sesakit itu. Aku berjalan terhuyung mencari tempat sampah, tapi tak menemukannya, pada akhirnya aku muntah sembarangan.   Sambil memegangi perut aku menatap berkeliling.
Itu bukan kamar kostku.

Setelah kejadian itu, aku merasa sangat bersalah dan menyesal. Emak pasti akan sedih jika tahu anaknya mabuk-mabukan. Aku menyembunyikan kejadian itu dari siapapun termasuk Gita.
Tentang temanku itu, ia sempat mengajakku lagi pergi bersamanya, tapi aku selalu menolakkya, aku ingin fokus memperbaiki nilai sekolahku agar beasiswaku tidak dicabut dan aku bisa meneruskan kuliah.


Baca juga : HATI YANG BARU


Di halaman selanjutkan aku menemukan kembali senyum gadis itu, kali ini aku ada di belakangnya,
tersenyum dengan raut paling bahagia. Masih kuingat saat itu aku memang sungguh bahagia.

Menjelang kelulusan aku dan Gita belajar lebih giat dari biasanya. Sayangnya Gita harus ikut bimbingan belajar di luar sekolah karena permintaan orangtuanya, sehingga waktu kami bertemu jadi semakin sempit. Sejak pertama kali berpacaran dengan Gita aku tahu dia anak orang kaya. Setiap hari ia diantar jemput oleh mobil. Tentu jauh berbeda denganku. Tapi Gita menerimaku apa adanya. Kami tak pernah membahas perbedaan itu.

Tiga hari sebelum ujian kelulusan adalah ulang tahun Gita. Karena keluargannya kaya raya, pesta ulang tahunnya dirayakan besar-besaran.
  “Aku akan mengenalanmu pada ayah dan ibu”
Perasaanku campur aduk mendengarnya, bagaimana jika hubungan kami tidak direstui, bagaimana jika…
   “Kak…’’ tepukan tangan Gita di bahuku membuyarkan ketakutanku. Dia tersenyum lembut.
   “Kakak gugup?” aku menggeleng, meskipun sudah lama berpacaran Gita masih memanggilku dengan sebutan kakak, dia bilang dia akan memanggilku begitu terus sampai ia resmi jadi istriku. Bagaimana aku tidak jatuh cinta padanya atas semua sikap menggemaskannya.

Aku membalik halaman demi halaman, kebanyakan memang wajah Gita yang menghiasi album foto itu. Karena dulu aku begitu sering merindukannya, jadi aku menyimpan banyak fotonya. Tak hanya di album itu, bahkan di dinding kamar kostku, loker dan dompet. Saat ini mungkin aku merindukannya lebih dari masa-masa itu.

Malam acara ulang tahun itu tiba. Aku berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya, malam itu aku memakai jas yang dibelikan Gita untukku. Sebenarnya aku tak mau menerimanya, tapi ia memaksa dan aku tidak bisa menolaknya.

Masih terekam jelas di kepalaku malam itu gerimis berjatuhan, aku pergi ke rumah Gita dengan ojek yang udah kupesan sejak sore. Sesampainya di sana sebagian tubuhku sudah basah, tidak ada waktu untuk merapikan diri. Aku melangkah tergesa menuju tempat acaranya. Jam sudah menunjukan aku terlambat 10 menit, aku mempercepat langkahku.

Saat aku tiba, acaranya sudah berlangsung. Aku dapat melihat Gita berdiri di sana, di samping kedua orangtuanya. Lilin sudah ditiup. Aku mendorong beberapa orang untuk melihat lebih dekat. Ketika itu mata kami bertemu. 
Kenapa temanku ada di samping Gita? 
Gita menatapku, aku tahu ia berusaha menyembunyikan kesedihan. Aku masih tak mengerti.

   “Malam ini juga keluarga kami ingin mengumumkan pertunangan antara Gita dan Fery…’’

Aku meraba foto hitam putih itu, air mata tanpa sadar terjatuh, aku buru-buru mengusapnya tak mau merusak secuil kenangan indah itu.

Aku putus asa, frustasi. Kabar pertunangan itu mempengaruhiku begitu besar. Sejak itu juga, sangat sulit bagiku menemui Gita, begitu juga Fery. Kabar yang kudengar mereka sudah dijodohkan sejak SMP.

Aku jadi sering keluar malam untuk sekedar mencari angin di pinggir jalan, kehidupan malam lagi-lagi menarikku. Aku menerima ajakan temanku ke diskotik meskipun aku hanya melamun di sana.

Aku tahu tindakanku salah, tapi aku tidak bisa mengendalikannya. Berada di sekolah dan kost-kostan membuatku semakin frustasi sehingga aku melampiaskannya dengan pergi bersama teman-temanku.

Pada tahun 1979 di hari kelulusan, beasiswaku resmi dicabut. Nilaiku turun menjadi peringkat 20, ditambah dengan laporan bahwa ada guru yang melihatku keluar masuk club malam.

Waktu itu, untuk pertama kalinya setelah hari ulang tahunnya, Gita bicara padaku. Kami bertemu di taman belakang sekolah, tempat kami sering belajar bersama, tempat aku memintanya jadi pacarku, dan tempat pertama kami bergandengan tangan.

  “Jangan menghancurkan dirimu kak” pintanya dengan pandangan sendu,
Aku hanya menatapnya sekilas tak menjawab semua perkataannya.
  “Aku ingin melihat kakak sukses walau tanpa aku”
Tidak akan bisa, aku mengepalkan tanganku erat. Gita mengecup pipiku selama beberapa detik sebelum pergi dengan suara isakan yang dapat kudengar.

Aku semakin terpuruk, aku tidak berani pulang ke kampung, aku takut mengecewakan keluargaku terutama emak dan bapak. Lalu bagaimana aku akan hidup di Jakarta? Awalnya aku berpikir untuk bekerja di mana saja, tapi semua tidak berjalan lancar sehingga aku makin frustasi.


Baca juga : Aku lelaki yang kau tinggalkan (cerpen)

Baca juga : Kisah si pria gila

Suatu hari salah satu temanku menawarkan pekerjaan padaku dengan gaji yang lumayan besar, aku yang saat itu sama sekali tak punya uang dan hampir diusir dari kostku akhirnya menerima tawarannya.

Semua kejadian di masa lalu itu membuat airmataku mengucur makin deras. Aku menutup album foto itu dan tersedu di atasnya menumpahkan penyesalan dan kerinduan.
Di luar hujar mengguyur pepohonan yang berbulan-bulan lamanya kekeringan. Ya, hujan pertama tahun ini. Aku menaruh album foto itu di meja, berjalan terhuyung menuju jendela. Hujan terakhir….

Besok aku akan meninggalkan rumah ini, meninggalkan semua kenangan di rumah orangtuaku ini.

Semua yang kupunya telah pergi, aku pun akan menyusul mereka.

Mereka menutup mataku dengan sebuah kain hitam, meninggalkan gelap, sunyi, dan takut. Sekali lagi, aku membaca doa, meminta ampun.

Kudengar kabar, bahwa setelah mengetahui aku kecelakaan emak sekeluarga nekad ke kota untuk mengunjungiku, sayangnya kapal yanng mereka tumpangi tenggelam dan semua penumpangnya tewas. Yang membuatku makin sedih, kabar itu sampai padaku setelah 3 bulan berlalu dan mayat mereka tak ditemukan.

Wajah emak, bapak, dan adik-adikku melintas bergantian di pikiranku. Entah, apa aku bisa bertemu mereka karena dosaku yang terlalu banyak.
Dua bulan yang lalu di usiaku yang ke 28 aku divonis hukuman mati atas kasus pengedar narkoba dan pembunuhan atas 3 orang. Tidak pernah kupikirkan Galih yang baik dan pintar akan jadi seperti ini. Aku menghela nafas dalam, menunggu rasa sakit yang akan menembus jantungku. Sembari  terus bertasbih, mengharap sedikit ampunan.
  “selamat tinggal” bisikku parau.

Tamat

Begitulah, bukan akhir yang bahagia. tapi ada pesan moral yang bisa diambil kan. 
Apakah itu?🤔
Apakah soal kekuatan iman
Ketekunan belajar
Kasih sayang
Cinta buta😱
Atau apa?

Dipikir sendiri aja ya sob...
He..he.. Saya tak sanggup menjelaskannya dengan kata-kata😁
Alah bilang aja, udah malem trus mo bobok🙄

(jadi ceritanya saya bikin ini artikel di malam hari, di detik-detik mata sudah minta diistirahatkan)

Tau aja😁

Ya udah ya sob

See you...










4 komentar

  1. Dari cerpen di atas saya bisa menyimpulkan bahwa, kekuatan iman dan kekuatan cinta dari orang - orang tercinta khususnya keluarga akan mampu menghindarkan seseorang dari hal - hal yang tidak baik, baik itu zina, mencuri, membunuh, ataupun perbuatan yang tidak baik sekalipun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena cinta punya kekuatan yang tak terlihat ya. Bisa melakukan apa yang tidak masuk akal.
      Ah, ngomongin cinta, jadi pengen dicintai
      Wkwk😂

      Hapus
  2. Cerpenis, seputar cinta dan kehidupan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha..karena 2 topik itu yang palik disukai manusia mas😁

      Hapus


EmoticonEmoticon