Jadi cerpenis "Keputusanmu untuk mati"

Jadi cerpenis "Keputusanmu untuk mati"

Halo sob, hari ini saya mau berbagi salah satu cerpen yang pernah saya kirim ke media tapi kemudian berakhir tanpa kabaršŸ˜Ÿ.
Sungguh kumerasa resah jadinya.
Tapi ya, nggak apa-apa lah. Ini berarti saya masih harus belajar menulis lebih baik lagi kan. Dan lagi, saya jadi punya artikel untuk dipublish dikala otak lagi capek gini
Ha..ha....
Selamat menikmati

Keputusanmu untuk mati

Via.pixabay

Kamu memutuskan untuk mati...
Ya, jatuh dari lantai 50 pasti bisa membuatmu mati seketika.
Kamu juga bisa merasakan sejenak rasanya melayang di udara.

Seperti apa rasanya?

Berhadapan dengan dinginnya angin malam di atas gedung rumah sakit yang sudah seminggu kamu tinggali.
Seminggu tanpa membuka mata sama sekali.

Sejenak, kamu memejamkan matamu, membiarkan beberapa kenangan melintas seperti bunga-bunga mermekaran di musim semi tahun lalu. Saat kamu dan dia bergandengan tangan di tengah taman bunga dengan cahaya matahari sore yang hangat, sehangat tatapan matanya padamu.

Kalian bercanda, membagi tawa dalam perjalanan panjang di hari yang penuh kenangan. Hari yang indah itu berakhir dengan sebuah bunga dan kecupan mesra.

Sungguh kenangan yang tidak bisa kamu lupakan.
Kembali ke masa ini...

Lalu kemudian kamu menangis.

Kenapa kamu punya kenangan seindah itu, jika kemudian hanya jadi kenangan yang sanggup membunuhmu perlahan?

Bintang-bintang menyambut matamu yang terbuka perlahan. Terlihat lebih jelas dan bersinar jika dilihat dari tempat setinggi itu.
Kamu takut ketinggian. Sejak kecil kamu tak berani naik ke lantai atas rumahmu karena kamu takut. Kamu lebih memilih tidur di lantai bawah, kamar di dekat taman belakang yang lebih sepi dan tenang.

Tapi hari ini kamu berdiri di tepi atap lantai 50.

Apa kamu sudah memilih tempat yang tepat untuk mati?

Apa bintang-bintang itu akan menangkapmu sebelum jatuh?

"Kita akan menikah" begitu katanya padamu.
Hari itu menjadi hari paling bahagia dalam hidupmu, pertama kalinya kamu ingin berteriak sambil melompat riang seperti anak kecil. Hatimu dipenuhi rasa haru dan kesenangan. Kamu tidak akan lupa moment saat dia mencium kedua punggung tangganmu dengan lembut, tatapan tulus dan teduh yang menghangatkan seluruh tubuhmu.

Tapi kemudian kamu melihatnya bergandengan tangan dengan wanita lain. Jika saja hanya bergandengan, kamu mungkin tidak akan seperti ini....
Kamu mungkin bisa memaafkannya dan berusaha melupakannya karena kamu terlalu mencintainya.

Bagaimana kamu bisa berdiri dan tidak menagis?
Bagaimana hatimu tidak sakit?

Kamu mencintainya
Orang yang setiap hari bilang jatuh cinta padamu, dan mengacak rambutmu dengan gemas.

Apa mungkin itu semua kebohongan?

Besok adalah hari jadi kalian yang ke 5.
5 tahun yang panjang dan menyenangkan bersama dia, kamu selalu berpikir tidak akan bisa jatuh cinta pada siapapun lagi, kamu selau percaya dia akan menjaga dan memelukmu, berdiri di sampingnu dengan senyumnya.

Kamu selalu begitu.

Harusnya kamu juga tahu bahwa...
Mana mungkin ada pria yang bisa menerimamu apa adanya. Tak ada yang spesial darimu selain kamu sekarang masih hidup.

  "Aya.. Perkenalkan ini Dimas, pegawai di kantor papa....."
  "Halo, saya Dimas"
6 tahun lalu kamu terpana saat melihatnya tersenyum padamu, terutama sikapnya padamu yang terlihat perhatian, suaranya yang berat diam-diam selalu terdengar di telingamu.

Dimulai dari perkenalan itulah kamu kemudian sering main ke kantor papamu untuk bisa melihat Dimas, mencuri pandang dengannya.



Suatu hari saat kamu sedang makan siang di kantor papamu, tiba-tiba seseorang duduk di depanmu.
  "Mbsk Aya ya, boleh duduk sini ya mbak, soalnya nggak ada kursi lagi...."

Ah, ya, saat itu kamu butuh 3 detik untuk sadar dan menjawabnya.
Kalian kemudian bicara ngalor ngidul, tanpa sadar saling melempar canda dan tawa.

Rasa nyaman itulah yang akhirnya membuatmu berani nengatakan perasaanmu padanya. Tentu saja kamu malu tapi kamu tidak bisa memendam perasaanmu lagi, kamu juga tak pernah tahu sampai kapan kamu akan bernafas sebebas ini.

Tapi....
Dia tak menjawab dan malah pergi dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Meninggalkanmu dengan rasa malu dan kesedihan yang mendalam.

Kenapa kamu tak curiga saat besoknya dia mendatangimu dan bilang memiliki perasaan yang sama, kenapa kamu tak bertanya alasannya? Kenapa kamu begitu bodoh karena cinta.

Katakanlah... Cinta bisa tumbuh karena banyak hal. Terbiasa, obsesi, simpati, kasihan, juga hutang budi.

Kalaupun itu tak bisa disebut cinta, setidaknya pasti ada rasa memiliki dan kasih sayang di dalamnya. Bukankah begitu?

"Aku-sudah beristri"

Genggamanmu terlepas. Tak ada kata-kata lain selain itu, baik kamu maupun dia tak bicara lagi. Tak ada kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu...juga tak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya.

Belakangan kamu tahu, hubungan kalian tak berdasarkan kebaikan, tak tumbuh karena apapun, hubungan itu ada karena keterpaksaan.
Ayahmu mungkin terlalu menyayangi putri satu-satunya yang sekarat sehingga tak tega saat tahu kamu menyimpan rasa pada karyawannya.

Jadi selama ini kamu hidup dalam kebohongan besar, semua orang berbohong padamu untuk mengurangi rada sakitmu, berharap kamu bisa bertahan lebih lama atau bahkan sembuh jika hidup dengan orang yang kamu cintai.

Kamu memang bertahan, tapi rasa sakit yang selama ini kamu tahan, muncul bersamaan di saat ini.

Rasa sakit yang cukup mendorongmu jatuh, tenggelam, dan menghilang.

Suara gedoran di pintu membuyarkan lamunan panjangmu.....
Kamu tersentak, menatap pintu itu sejenak.
  "Aya..." hanya panggilan itu yang kamu dengar, hanya deru angin di telingamu dan dinginnya udara malam yang membungkus tubuhmu....

Karena kamu sudah memutuskan untuk mati, maka kamu ingin menikmati sejenak rasanya terbang sambil mengingat suaranya yang pernah berbisik soal cinta padamu, juga meminta maaf pada makhluk tak bersalah yang hidup dalam perutmu.

Tamat

Saya ingat, saya menulis cerita tersebut sambil mendengarkan lagu luar yang saya nggak paham benar apa maksudnya. Tapi bikin otak saya langsung nyala berimajinasišŸ˜

Semoga minggu depan semangat kembali membara seperti minggu-minggu sebelumnya....
Amin....

See you....












0 comments

Post a comment