sebuah cerpen, Wanita bersanggul

sebuah cerpen, Wanita bersanggul

sekali lagi, saya mau berbagi sebuah cepen. karena mau berbagi uang juga nggak punya He... He....😁
dan nggak mau bertele-tele dan berlebay-lebayan seperti biasanya saya akan langsung kasih lihat cerpennya. Dan mohon mangap...eh, mohon maaf saya cari gambar yang sesuai susah banget, jadinya ya seadanya aja ya.....
lets go....

Wanita bersanggul


via.pixabay

Kepalanya sudah terasa berat, mata belonya beberapa kali menutup tanpa bisa di tahan, tapi ia, wanita dengan rambut disanggul itu tak kunjung meninggalkan taman untuk pulang dan tidur.
Apa ia tidak khawatir dengan paras cantiknya yang akan mengundang pria bejat sepertiku untuk mendekat. Anehnya, aku sudah berada di taman ini sejak satu jam yang lalu, memandangi si wanita bersanggul. Tapi bukan rencana kriminal yang tersusun di kepalaku, aku justru penasaran dengan apa rencana wanita itu di sini. Dia pasti menunggu sesuatu yang sangat penting sampai enggan meninggalkan taman walau sudah selarut ini.

Waktu kian berlalu,  jam semakin mengundang bunyi binatang malam untuk bernyanyi, udara dingin membungkusku dengan sempurna, ditambah dengan nyamuk-nyamuk yang tak henti menyanyi dan menggingitku. Meski begitu, wanita itu tak tepengaruh, ia seperti benda mati, sebuah patung yang mematung di kursi taman. Sebenarnya, sudah 3 hari ini ia selalu berada di sana, rambutnya selalu disanggul seperti sinden,lengkap dengan kebayanya. Orang mungkin akan berpikir ia aneh atau pedagang jamu yang kesasar, tapi sebaliknnya ia justru  menarik mataku, menarik perhatianku secara diam-diam dengan sikap diamnya itu. Aku tak tahu siapa yang ia tunggu, apa mungkin kekasihnya, pikiran itu justru membuatku kesal sendiri. Yang pasti siapapun yang ia tunggu tak pernah datang.
Sekarang ketika sudah menginjak pukul setengah 1 pagi tak ada siapapun di taman ini selain wanita bersanggul dan tentunya aku yang masih setia mengintipnya karena penasaran.
Wanita itu kini mengeluarkan ponselnya dari tas, tampak kecemasan tersirat dari raut cantiknya. Ia berdiri, aku memajukan kepalaku untuk melihat lebih jelas. Apa ia sudah selesai, apa yang ia tunggu tidak datang lagi? Tapi baru beberapa langkah berjalan wanita itu berhenti, urung dengan niatnya dan kembali duduk di kursi.
Kembali, ia mengeluarkan ponselnya,
  “Halo ‘’ dia sedang menelfon seseorang….
  “Aku takut” Suaranya mengecil, tapi cukup untuk bisa kudengar.
Apa yang ia takutkan? Kalau pun ia takut pada sesuatu atau seseorang kenapa ia tidak pulang saja, taman ini bukan tempat yang aman untuk berlindung.
  “Bagaimana jika ada yang melihat?’’
Sudah jelas. Ini sesuatu yang rahasia. Rasa penasaranku semakin tinggi, aku tak akan meninggalkan taman ini sampai tahu apa yang terjadi.
  “Aku takut, aku…” mulutnya menutup, terkatup rapat. Ponselnya turun perlahan, tebakanku, seseorang di ujung telepon sana sudah menutup telepon tanpa membiarkan wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Melihat gerak-geriknya, aku merasa iba. Wanita itu sedang ketakutan, beberapa kali ia meremas ujung bajunya. Aku juga melihat sepertinya ia mencoba menelfon kembali orang  tadi, tapi selalu tak diangkat.
 Menjelang pukul 1 pagi, tiba-tiba wanita itu mengangkat kepalanya, tegang, matanya tertuju pada satu arah. Ada seseorang yang muncul dari sana. Wanita bersanggul itu menelan ludah, gugup tergambar jelas.


Baca juga : LEE (Cerpen)


  “Maaf sudah membuatmu menunggu” Seorang wanita paruh baya dengan bayi di gendongannya menyapa wanita itu, senyumnya tak menunjukan kewajaran, menurutku mereka berdua sedang menyimpan ketakutan yang sama. Sebelum berbicara lagi wanita dengan bayi di gendongannya menatap berkeliling, membuatku harus mundur beberapa senti.
  “Apa katanya?”
  “Masih kurang 3” wanita bersanggul menjawab. Mata belonya mengintip bayi kecil yang tertidur pulas.
  “Dari mana kita mendapatkannya? Aku tidak tahu lagi” si wanita dengan bayi di gendongannya berkata dengan nada putus asa.
  “Aku tak tega” wanita bersanggul mengusap matanya dengan punggung tangan, punggungnya sedikit bergetar, apa ia menangis?
  “Aku juga”
Selama beberapa saat suasana menjadi hening,  aku sudah dipenuhi dengan pertanyaan yang semakin banyak tanpa menemukan jawaban. Rasanya seperti sedang menonton film misteri. Keheningan dan kegelapan di taman itu tiba-tiba membuatku sedikit merinding, tapi mataku tak bisa lepas dari si wanita bersanggul. Sungguh, sedari tadi aku mengaggumi kecantikannya. Dan memang itulah yang awalnya membuatku penasaraan, ditambah dengan tatapan ketakutannya, seakan ia meminta bantuan padaku.
Akhirnya hening itu berakhir dengan si wanita bersanggul menerima bayi dari si wanita paruh baya. Ia mengambilnya dengan hati-hati sembari menimangnya. Setelah saling tatap dan mengangguk mereka berdua berpisah. Si wanita paruh baya berjalan menuju kegelapan dan entah ke mana sementara si wanita bersanggul dengan langkah terburu-buru membawa bayi itu menjauh, keluar dari taman. Aku pun mengikuti wanita itu.
Ke mana ia akan pergi setelah 3 hari mennunggu…?
Ketika hampir sampai di jalan raya, tiba-tiba wanita itu berhenti, kemudian ia berbalik dan kembali masuk ke dalam taman. Di dalam taman itu ia menagis sesenggukan, menciumi bayi di pelukannya berulang-ulang. Melihat pemandangan itu, aku jadi ikut terharu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
  “Jangan lagi… aku tidak bisa lagi…’’ begitu isaknya. Ia berlutut di tanah, seakan mau pingsan.
  “kalian begitu polos, tak berdosa, bagaimana aku bisa membunuh kalian”
Membunuh.
Kata itu, membuat darahku berdesir ngeri. Apa kejadian ini melibatkan sebuah pembunuhan? Wanita bersanggul itu, apa ia pembunuh?
  “Tolong aku, tolong… tolong mereka’’ wanita bersanggul menangis semakin dalam, ia begitu menderita. Dipeluknya bayi itu makin erat, seakan-akan itu anaknya. Atau mungkin itu memang anaknya….
Lalu dengan mengejutkan, wanita itu menarik sanggulnya hingga terlepas. Melemparnya ke tanah, tak cukup sampai di situ ia menginjaknya dengan amarah dan tangisan. Rambut aslinya panjang dan hitam, terurai berantakan.
  “Aku tak peduli, aku akan menyelamatkanmu” Bisiknya pada si bayi yang masih pulas. Ia kembali melangkah terburu-buru, menoleh ke belakang entah sudah berapa kali. Airmata masih tak mau kering dari wajahnya. Bahkan ketakutan yang sedari tadi terlihat, semakin jelas.
Aku berlari dari balik pohon ke pohon lain, menjaga tubuhku tetap dalam kegelapan. Wanita itu masih terus berlari, berlari seperti orang kesetanan.
Entah dari mana datangnya tiba-tiba saja 2 orang lelaki sudah mengejar wanita itu. Aku hampir keluar dari persembunyianku, tapi aku masih penasaran dengan kelanjutan cerita ini.
  “Berikan!!” salah satu dari mereka berkata.
Wanita itu menggeleng, memeluk si bayi makin lekat.
  “ini perintah”
Suasana semakin mencekam. Si wanita masih tak mau menyerahkan bayi itu, ia hanya terus melangkah menjauh, gemetar, dan ketakutan. Aku begitu tak tega melihatnya, tapi juga ragu untuk menolong. Bukankah aku juga bejat, kenapa aku harus menolongnya.
Plakk
Sebuah tamparan mendarat di wajah wanita itu. Itu tersungkur ke belakang, merintih namun tak mau merenggangkan gendongannya pada si bayi.
  “Berikan sekarang juga!!”
Kelihatannya mereka tak mau membuaat si bayi menangis, jika tidak kenapa mereka tak mengambilnya dengan paksa. Si wanita tetap kukuh melindungi si bayi.
Plakk….
Sebuah tamparan lagi, lebih keras dari sebelumnya. Aku berkeringat di tempatku, kebingungan antara tetap bersembunyi atau menolong wanita itu. Kutatap wanita itu lamat-lamat, aku tak suka dengan ketakutannya, terutama di saat seperti ini, ia terus menempelkan ketakutan itu di wajahnya. Ke dua pria itu menyudutkan si wanita, lalu dengan kasar salah satu diantara mereka menarik rambutnya sampai wanita bersanggul itu meringis kesakitan. Aku tak tega melihatnya, ia wanita baik-baik, aku tahu itu.
Tangan si pria melayang lagi, dan si wanita memejamkan matanya, tapi…
Sebelum tamparan ketiga terjadi, aku lebih dulu melompat dan memukul mereka dari belakang. Masih terbersit pertanyaan di benakku, kenapa aku melakukan semua ini? Berkelahi demi menolong seseorang, padahal selama ini aku berkelahi untuk menyakiti seseorang.
Beberapa pukulan membuat aku terjengkang dan merasakan nyeri, aku tahu mereka adalah orang-orang terlatih. Melawan mereka pasti sia-sia. Sekali lagi mereka memukulku dan aku hanya menangkisnya. Badanku sudah terlalu lemah, kepalaku berkunang-kunang. Pukulan demi pukulan terus menerjang tubuhku. Aku melirik si wanita bersanggul dan dalam gerakan cepat aku menariknya dan membawanya berlari menjauh, secepat mungkin.
Tangannya dingin, tapi kakinya bergerak sangat cepat .



Sesuatu yang panas menembus punggungku, tapi aku tetap berlari, berteriak menuju jalan raya, meminta tolong. Pandanganku semakin mengabur. Anehnya yang kupikirkan bukan aku takut akan mati, tapi aku mencemaskan wanita dan si bayi itu. Mungkin aku sudah gila karena melakukan tindakan baik, dan mungkin aku akan segera mati. Setidaknya aku sudah meninggalkan sedikit kebaikan jika memang harus mati. Tak lama kemudiaan semua menjadi gelap.
Wanita bersanggul itu bernama bulan, nama yang cantik seperti orangnya. Ia seorang dokter bedah dan  Ia bukan pembunuh, tapi ia memang membunuh bayi-bayi itu untuk diambil organ tubuhnya. Semua itu atas perintah seseorang yang telah menawan keluarganya selama 2 tahun teraakhir ini. Dari hasil penyelidikan, wanita itu sudah terlibat dalam penjualan organ tubuh manusia daan ia mengakuinya dengan jelas.
Apa aku mati? Jawabannya tidak, setelah wanita bersanggul dan si bayi selamat, aku dirawat di rumah sakit selama beberapa hari karena 2 luka tembak di punggugku, untungnya tidak mengenai jantung.
Sejujurnya, aku ini seorang buronan. Seperti yang selalu aku akui, aku adalah pria bejat. Merampok, mencuri, bahkan membunuh, aku sudah pernah melakukan itu semua. Masa laluku kelam, apalagi masa depanku. Intinya aku adalah orang jahat, harusnya jika aku tertangkap maka aku akan dipenjara selama 15 tahun lebih atau bahkan hukuman mati yang akan disambut gembira oleh para warga kota, tapi karena aku telah membantu membongkar sindikat pejualan organ tubuh manusia itu, maka aku dibebaskan dengan beberapa syarat.
Sungguh ajaib bukan….
Yang lebih ajaib lagi…
Ketika aku membuka mata pertama kali, orang yang ada dihadapanku adalah wanita bersanggul itu, tapi rambutnya tak disanggul, ia menggerainya. Matanya menatapku, dan aku menerima seulas senyum yang begitu indah.
  “Terimakasih” bisiknya.

Tamat

Akhirnya selesai juga, kayaknya saya dulu pernah kirim cerpen ini ke media, tapi nggak ada kabar. ya sudahlah memang mungkin lebih baik di taruh di sini aja ya....
semoga kalian menikmati dan kenapa hari ini pembukaan dan penutupannya simple banget? karena si penulis lagi sakit kepala sob. Jadi maklumi ya....
Bahkah mau BW pun belum sempet.
Sekali lagi im sorry ya😁🙏

see you....

2 comments


EmoticonEmoticon