Kisah si pria gila

Kisah si pria gila


Hay sob, kalian tahu nggak berita yang sempat viral tentang seorang pria yang berfoto dengan teman masa kecilnya tapi dalam kondisi si teman sudah nggak waras alias gila.
Waktu lihat berita itu saya jadi merasa sedih. Kasihan, campur aduk. Susah menjelaskannya.
Kalau saya jadi si pria yang mengunggah foto itu saya mungkin bakal nangis. Yang terbayang dalam kepala saya adalah masa kecil penuh tawa, lari-larian bareng, tanpa ada pikiran di masa depan dia akan hilang akal dan pikirannya.
Dan berita itu juga mengingatkan saya tentang orang gila yang sempat sering terlihat di tempat saya. Meskipun gila, orang bilang mereka nggak punya pikiran, tapi entah kenapa kok saya malah kepikiran sama mereka.
Langsung cek saja ceritanya, saya buat cerita ini sudah lama banget, jadi banyak kalimat yang agak lucu dan aneh pas saya baca lagi tapi nggak saya ubah karena alasan biar orisinil dari sononya he..he...😁  dan baru saya publish sekarang.
Selamat menikmati....


Kisah si pria gila

via.pixabay

(Gambar di atas sebatas ilustrasi saja ya....)

Ada sebuah kisah, bukan kisah zaman dulu, ini hanya kisah tentang orang gila di desaku.

Aku sering melihat mereka, para orang gila atau tidak waras yang terkadang berkeliaran di beberapa jalan. Mereka kotor dan bau, tentu saja karena mereka tidak pernah mandi. Tapi mereka sangat kuat, karena mereka bisa berjalan ke mana saja, dan sejauh apapun hanya dengan berjalan kaki tanpa alas.
Setiap kali aku melihat orang gila selalu ada satu pertanyaan yang muncul di benakku.

  “Apa cita-cita masa kecil mereka?”
Pertanyaan yang menjurus pada banyak pertanyaan lain.

Ada satu orang gila yang kisahnya sempat membuatku merenung, yang menyentuh hatiku.
aku tak tahu namanya, karena seperti kebanyakan orang gila lainnya, mereka tak pernah dipanggil. Dia seorang pria, mungkin berumur hampir 30 an. Rambutnya panjang dan gimbal, hampir setiap hari aku melihatnya lewat depan rumahku. Sebenarnya ia tak pernah mengganggu siapapun, ia hanya numpang lewat, numpang duduk, kecuali satu kejadian ketika ibuku atau tetangga menjemur nasi sisa di luar rumah dan orang gila itu melihatnya, dia pasti akan mengambilnya, tapi itu karena ia kelaparan. Aku sebenarnya malah tak tega membayangkannya makan nasi setengah basi itu, bagaaimanapun juga tubuhnya masih ssama dengan manusia normal lainnya yang akan sakit billa diberi makanan basi itu. Tapi aku juga tidak berani memberinya makanan karena takut ia akan terbiasa meminta padaku dan juga sebenarnya aku agak takut.

menurut cerita orang-orang. dulunya si pria gila itu juga bersekolah sampai SMK. Luar biasa bukan…
lalu kenapa ia bisa gila….?
Entah ini benar atau tidak, yang jelas kisah ini berhasil membuatku memikirkan nasib dan menerka-nerka masa lalu si pria gila itu.
Ia rupanya hanya anak angkat, tak memiliki hubungan darah sama sekaali dengan 2 orang yang biasa ia panggil emak dan bapak. Mungkin kenyataan itu membuat si pria gila yang kala itu masih remaja, terguncang dan tidak terima. Berbulan-bulan berlalu mencoba mencari tahu keberadaan dan info tentang orangtua kandungnya si pria gila putus asa dan berakhir dengan frustasi.

Lama kelamaan frustasinya tak dapat dikendalikan, ia sering melamun dan pergi keluar rumah tanpa pulang sehari penuh, lalu dua hari, tiga hari bahkan ssampai semnggu. Keadaannya tersebut membuat cemas keluarga, tapi si pria gila sudah tak melihat mereka sebagai keluarga aslinya lagi, dan ia semakin sering meninggalkan rumah tanpa pamit. Kakinya hanya menyusuri jalanan tanpa tujuan, tidak peduli panas atau hujan. Yang penting jika lapar ia akan mencari makan.

Entah sejak kapan tepatnya ia sering lewat depan rumahku, lngkahnya cepat sekali. Kulitnya legam terbakar sinar matahari, dan tubuhnya kurus berbalut baju hitam kumalnya. Pernah suatu kali ia berganti baju berwarna putih, dalam hitungan hari saja rupa baju itu sudah teramat menjijikan dan ia entah bagaimana kembali mengenakan kaos hitamnya.
Kata orang, si pria gila itu tidur di prmakaman desa sebelah, tempat yang menyeramkan. Mungkinkah ia bisa melihat hantu? Dan apa ia tidak ketakutan?

Suatu hari aku mendengar kabar kalau orang gila itu keracunan karena makan ketela beracun, waktu itu orang-orang berpikir ia sudah mati karena badan kurusnya tergeletak lemas di depan pintu pemakaman. Sebuah pemandangan yang pilu, dia gila tapi dia tetaplah manusia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia kesakitan karena ketela beracun itu, dia hanya tidak tahu kalau itu beracun, yang ia tahu ia lapar dan butuh makan.
Sungguh kasihan….
Tapi, rupanya si pria gila itu masih hidup. Keesokan harinya aku sudah melihatnya lewat depan rumahku lagi.
Seringkali aku bertanya. Apa yang mereka, para orang gila pikirkan, apa plkiran mereka kosong atau justru dipenuhi dengan hal-hal tak masuk akal? Apa mereka masih ingat masa kecil mereka, bermain petak umpet, kejar-kejaran. Apa mereka masih ingat bagaimana mereka bisa jadi gila, dan bagaimana mereka memandang orang-orang normal di sekitar mereka?


Baca juga : Cinta Ma, Tina
Baca juga : HATI YANG BARU

Setelah lulus sekolah aku memeutuskan untuk bekerja, menjadi orang sibuk yang dipenuhi banyak pikiran. Aku jadi jarang melihat si pria gila itu, kecuali jika hari libur. Ia masih mengenakan baju yang sama, kecepatan yang sama ketika berjalan.
Sampai suatu hari ketika ia lewat depan rumahku, ibuku berkata.

  “Sudah beberapa hari ini dia berjalan dengan kaki pincang”

Memang benar, si pria gila jadi pincang, sehingga jalannya lebih lambat. Kira-kira apa yang terjadi padanya? Orang-orang sekitar juga mulai bersimpati, beberapa sempat mencoba bertanya tapi apa yang bisa diharapkan dari jawaban orang gila?
kelihatannya ia sakit, atau terjatuh. Tak ada yang tahu pasti.
Meski begitu ia tetap berjalan kesana-kemari, seolah-olah kakinya sudah pincang sejak dulu. Dan mungkin juga karena jika ia hanya diam di pemakaman tidak akan ada yang memberinya makan.
Sekali lagi, sungguh kasihan….
Berminggu-minggu berlalu, aku tak mendengar kabar apapun lagi soal si pria gila. Pikirku ia pasti masih sering lewat depan rumahku, lagipula aku lebih fokus pada pekerjaanku daripada memikirkan nasibnya.
Lalu, kabar yang mengejutkan datang
Si pria gila meninggal.
Tentu saja aku kaget mendengarnya, ibuku bilang pria gila itu terkena infeksi tetanus karena menginjak paku. Jadi kalian pasti sudah tahu kenapa ia selalu berjalan picang. Katanya juga ia sempat di rawat dan dibiayai pemerintah tapi nyawanya tak tertolong.




Sudah lama saya menulis kisah ini, sudah lama pula si pria gila itu meninggal. Setiap manusia punya kisah, tak terkecuali yang tak waras. 
Adakah diantara sobat yang punya kisah tentang orang gila?
Ceritakan di kolom komentar ya....

See you....


8 komentar

  1. Huhuhu sedih bacanya. Jujur saya termasuk yang takut sama orang gila. Kalau lihat di jalan pasti sebisa mungkin saya hindari. Tapi dibalik ketidakwarasan mereka tersimpan luka dan trauma yang berat ya. Itulah pentingnya merangkul orang-orang sekitar yang sedang dalam masalah agar nggak jadi depresi. Ah, saya selalu berdo'a sekalipun mereka tidak bisa menikmati dunia, karena memiliki dunianya sendiri, semoga kelak mereka dapat benar-benar menikmati SurgaNya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayaa pun berpikir seperti itu mbak, takut tapi kasihan dan kepikiran terus. bahkan juga selalu berdoa supaya mereka dapat hidup yang baik.supaya dilindungi sama Allah....

      Hapus
  2. Saya kok sedih ya Mbak membayangkannya...ya Allah.. Bersyukur kita baik2 saja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak,bersyukur banget otak sayaa masih waras. berdoa saja supaya mereka senantiasa dilindungi.

      Hapus
  3. Sebenarnya kasian sih liat orang gila berkeliaran seperti itu. Ada baiknya diobati dan dijagain.

    Btw kalo di kampung kami malah serem sih, soalnya sering bawa parang orang gilanya dan pernah ngejar orang kalo lagi kumat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ampun, serem banget mas.itu mah gilanyaa udah campur kriminal.nggak ada orang yang berani keluar rumah dong.horror banget.....

      Hapus
  4. Saya jangankan liat orang gila, liat orang berpenampilan aneh saja saya kabur hahahaha.
    Bukan nggak suka sih, memang saya agak parno ama stranger, apalagi yang penampilannya kayak orang gila, takut diapa-apain, padahal ya ada sebab dari semua itu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama aja mbk rey, saya pun sebenarnya juga penakut, nggak berani deket-deket. Cuma kalau lihat sering aja bertanya-tanya sendiri tentang masa lalu orang gila tersebut....

      Hapus


EmoticonEmoticon