Aku lelaki yang kau tinggalkan (cerpen)

Aku lelaki yang kau tinggalkan (cerpen) 

ceritanya saya baru saja mendengarkan sebuah lagu barat. nggak tahu maknanya tapi entah gimana saya ikutan sedih mendengarnya. yah, pasti kalian juga pernah kan merasa senang atau sedih hanya karena sebuah lagu. dan beruntungnya saya, rasa sedih itu membuat tangan saya menari dan menciptakan sebuah cerita.

wa...ha..ha... lebay abis sih lu😂

ya, emang lebay, trus siapa peduli.

kayaknya mubazir kalau ceritanya saya simpan sendiri, ntar saya dikira medit lagi. Nah, makannya saya bagi di sini biar pada lihat ya....

Aku lelaki yang kau tinggalkan
Via.pixabay

Aku terikat padamu.

Kau tahu itu, seperti yang aku tahu.

Tapi setelah tahun-tahun penuh tawa dan airmata yang kita lewati bersama. Kau tiba-tiba berubah dan menghilang. Tanpa jejak, tanpa kata, dan hanya meninggalkan luka yang kau pasti tahu, tidak akan pernah bisa sembuh. Aku merasa tersesat di pagi buta, dalam sepi,  dalam gelap kamar tanpa dirimu yang biasanya ada di sampingku, tanpa harum rambutmu yang terselip dalam udara pagiku.
Apakah kau mencoba berkhianat?
Untuk alasan apa?
Aku tahu kau bukan orang seperti itu. Aku tahu seburuk apa dirimu, pun sebaik apa dirimu.

Malam itu kau masih membuatkan aku segelas kopi, sembari menemaniku menyelesaikan pekerjaanku. Kau mengusap-usap rambutku sambil berceloteh riang. Sama sekali tidak mengangguku.
  "Apa kau mau makan?"
  "Aku masih kenyang" kataku sambil menoleh, tersenyum padamu yang bersandar di bahuku.
   "Ayo kita tidur"
   "Ini kan masih jam 9" biasanya kau akan mengatakan itu saat jarum jam menunjuk angka 10 malam.
    "Ayo..." kau menarik lenganku manja. Sesuatu yang kusuka darimu. Aku pun. Luluh dan membereskan berkas-berkas di meja. Mematikan lampu ruang kerja lalu naik ke kamar bersamamu.
Malam terakhir kita.

Keesokan harinya kau entah dimana.

Apa kau ingat. Ketika pertama kita bertemu. Bukan pertemuan romantis seperti film yang biasa kita tonton di akhir minggu.

Waktu itu, Aku meregang nyawa di jalanan. Mobilku terlempar ke dasar jurang. Sementara aku terbaring tak berdaya di pinggir jalan raya. Berlumuran darah dan sekarat.
Tak seorangpun berani mendekat, hanya menunggu kedatangan polisi yang entah kapan.
Mungkin seharusnya aku mati.
Lalu sentuhan tanganmu menyadarkanku. Suaramu yang terdengar hilang tenggelam menarikku kembali ke dunia nyata. Wajahmu yang penuh rasa khawatir itu, aku ingin melihatmu tersenyum.

Aku berada di rumah sakit selama hampir satu bulan. Kau yang tidak pernah kukenal selalu setia menungguiku, merawatku karena aku tidak punya siapapun selain diriku. Kita mulai saling tatap, berbincang, lalu tertawa ringan.


Baca juga : HATI YANG BARU


Setelah kau pergi, aku pun tak mengerti lagi untuk apa aku masih di sini? Apa hidupku masih berjalan, apa jarum jam itu  menunjukan waktu yang benar?
Kenapa semua terasa salah?

Aku tidak minum segelas susu lagi di pagi hari, tidak tidur tepat pukul 10 malam lagi. Aku bahkan tak bisa mendengar lagi suara-suara orang di sekitarku. Semua orang tahu, aku kehilanganmu, aku merindukanmu sampai setengah gila.

Aku selalu berharap terbangun di pagi hari dengan dirimu dalam pelukanku, atau kau tiba-tiba mengetuk pintu rumah dan muncul dengan teriakan "kejutan... I love you jame"

Nyatanya setelah hampir 5 tahun kau tak kembali. Rumah ini semakin sepi dan aku semakin mati. Dapur yang tak tersentuh, kulkas yang tak pernah terbuka, tv yang tak pernah menyala. Sebenarnya kau yang pergi, tapi kenapa aku ikut menghilang. Dimana aku sesungguhnya?

Kumohon jika kau pulang, jangan marah padaku. Jangan mengomentari tubuhku yang makin  kurus, rambutku yang panjang tak terurus atau kenapa aku membiarkan bunga di tepi jendela kamar kita mati.
Aku hanya tak mau terpuruk karena kepergianmu. Aku tak mau mengingatmu tapi juga tak mau melupakanmu.

Setelah 10 tahun kepergianmu. Aku masih setia dalam rasa frustasiku. Lamunan panjang yang mengunciku dari dunia di sekitarku. Kau penyebab semua ini... Tapi kenapa aku tidak marah....?

Karena aku mencintaimu.

  "Kalau seluruh dunia menjauhimu, aku yang akan memelukmu" kata-katamu selalu terdengar dalam pejaman mataku.  Mengusik tidurku, memanggilku ke masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.

Terkadang aku marah, menyalahkanmu untuk sekedar menghalau rasa sepi. Janji yang kita buat untuk tua bersama hanya rentetan kata yang sama sekali tidak bermakna, omong kosong sialan di usia muda kita.
Aku benar-benar menjadi lelaki yang cengeng tanpamu. Mana mungkin akan ada wanita yang mau melihatku, mereka terlihat jelek semua. Kau yang tercantik bagiku.


Tahun-tahun berlalu.... Bulan, hari detik yang kulewati dengan segenap sisa tenaga namun perasaan rindu yang makin besar. Pada akhirnya 24 tahun setelah kepergianmu aku tumbang, terjatuh pagi buta di lantai dingin kamar kita.
Samar-samar kulihat wajahmu di hadapanku, senyum yang kurindukan, mata yang indah.....lalu aku tak sadarkan diri.

Kembali lagi ke rumah sakit, tanpa seorang pun yang menunggu.
Aku hanya berharap kau menemuiku untuk terakhir kalinya, setidaknya ucapkan perpisahan yang manis agar aku juga bisa pergi dengan tenang. Atau mungkin kau akan kembali di hari pemakamanku?
Setega itukah dirimu?
Aku akan menangis lagi.

Aku tak lagi sekuat dulu, tubuhku menua, kulitku keriput, rambut putih yang bertambah banyak. Di jalanan taman ini setiap sore aku menghabiskan waktu, menuruti kata dokter untuk menggerakkan otot-ototku lebih sering. Bukan karena aku ingin berumur panjang, aku hanya masih menunggumu.

Akulah manusia paling bodoh yang menunggu hal mustahil terjadi. Mereka bilang padaku ketika datang menjeguk, bahwa kau tidak akan kembali. Kau pergi meninggalkanku dengan terburu-buru tanpa memberi tahu siapapun. Kau mungkin sudah punya suami lagi, pergi ke luar negeri, atau bahkan sudah mati.

Aku tak mau percaya pada mereka semua.
Kau itu, tak bisa mencintai lelaki lain selain ayahmu yang sudah meninggal dan aku. Kau membemci semua pria di kuar sana karena pelecehan yang terjadi padamu di usia 14 tahun. Kau juga selalu menolak pergi jauh karena sering mual di perjalanan, jadi mana mungkin kau kabur ke luar negeri. Dan kalau kau sudah mati, kenapa aku masih hidup?

Sedikit menghibur juga, saat mengamati anak-anak kecil itu berlarian penuh ceria. Saling kejar, jatuh. Tapi bangkit lagi tanpa menangis. Mereka sangat luar biasa.

Ingatkah kau, waktu bilang padaku ingin punya 2 malaikat dalam rumah kita. Apa karena dokter berkata kau tak mungkin bisa hamil lalu kau pergi?

  "Mereka terlihat seperti malaikat kan"
Aku tak bisa menjawab. Angin sore yang dingin menelusup ke dalam jaket tebalku. Sekali lagi aku mengedipkan mata, merasakan dadaku sesak dan bergemuruh di waktu yang sama.
  "Kau pulang"
Walaupun menua, aku masih bisa mengingat senyummu dalam bingkai wajah tua itu....

TAMAT

dan akhirnya lagunya sudah saya putar lebih daari 10 kali sampai cerita ini selesai. saya tuh kalau lagi dengerin lagu yang saya suka bawaanya pasti pengen nulis cerita. sama halnya kalau lihat sambal di meja makan bawaanya laper mulu. wkwk😂... atau kalau lihat aktor paporit, baper dulu.

Dan guys, sekarang waktunya si penulis amatir pamit dulu ya...

See you....





0 comments

Post a Comment