Bukan kisah si pohon mangga saja

Bukan kisah si pohon mangga saja

Cerita ini adalah cerita aneh dengan bahasa yang nyeleneh. Yang kemungkinan besar banyak bahasa indonesia yang salah di sini.
Tapi cerita ini bertujuan untuk menghibur belaka. Jadi mohon dimaklumi dan nikmati saja dengan segelas kopi☕

Bukan kisah si pohon mangga saja

Via.pixabay

pada zaman dahulu kala... dulu sekali
Hiduplah sebuah keluarga kecil yang aneh tapi bahagia.

Ada si anak, si bapak, dan si ibu.

Si anak suka sekali bermain, terkadang ia lari-larian di halaman atau main kuda-kudaan dengan "si jalu" kambing kecil kesayangannya, tapi sungguh kasihan si anak punya penyakit budek yang sudah menahun juga komplikasi berupa panu, kadas , dan kurap. Karena itulah ia tidak punya teman.

Suatu hari si bapak dan si ibu pamit pada si anak untuk mencari makanan di hutan.

  "Nak, ibu sama bapak pergi cari makan dulu ya" si anak diam saja, melongo sambil lirik sana sini

 "Bapak sama ibu mau cari makan" si bapak mengulanginya dengan pelan.

  "Jangan, jangan pak, masak jalu mau dimasak, nanti aku nggak punya temen" teriak si anak kebingungan.

  "Bukan itu, bapak sama ibuk mau cari makan" selama 1 jam lebih si bapak dan si ibu menjelaskan pada si anak. Mereka baru berangkat ketika si anak sudah nyengir sambil manggut-manggut. Padahal sebenarnya  si anak masih salah paham dia pikir bapak dan ibunya berencana untuk menyembelih si jalu.

Baca juga : Bujo (cerpen)

  "Gawat, aku harus menyembunyikan si jalu" Si anak lalu berlari ke kandang, dibawanya jalu ke halaman. Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri, matanya sibuk mencari tempat sembunyi, tapi memang tidak ada apa-apa di sana. Hanya tanah gersang tanpa batu dan tanaman. Si anak kebingungan lalu dilihatnya pohon mangga yang berdiri loyo dengan batang kering tanpa daun. Pohon mangga itu sudah lama ada dihalaman tapi tidak pernah tumbuh besar, dan sudah lama juga si anak ingin memanjatnya tapi tidak pernah diizinkan bapak dan ibunya. Si anak celingukan cengar-cengir sambil menatap pohon mangga itu.

  "Kesempatan" ujarnya, dengan usaha tanpa restu orang tua si anak lalu memanjat pohon yang tinginya 5 kali tinggi si jalu itu, kaki kecilnya dengan susah payah naik ke atas pohon, tapi malang tiba tiba.
Krek..
Aaaa...
Bukk..
Mbeekkkkk...

Takdir tak dapat dihindari. Si anak terbentur batu dan tewas seketika di tempat.
Ketika si bapak dan si ibu pulang mereka kaget melihat anaknya tidur di dekat pohon, si bapak dan si ibu lalu membangunkan anaknya, tapi meski di guyur air si anak tak mau bangun. Tahulah mereka bahwa anaknya meninggal dan itu gara-gara memanjat pohon mangga itu.

Karena marah, sedih, dan menangis, mereka pun menjadi dendam pada si pohon mangga yang tak berdosa.
Setiap hari si bapak melempari pohon itu dengan kotoran si jalu dan kotoran binatang lain yang ia ambil selama mencari makan, dengan maksud si pohon tidak tahan baunya lalu mati.
Si ibu setiap malam menyirami si pohon dengan banyak air, dengan maksud supaya si pohon kedinginan dan mati.

Tapi entah apa yang terjadi, mereka tidak tahu kenapa si pohon mangga malah tumbuh makin besar, besar, dan besar dengan dahan besar dan daun yang lebat.
Mereka jadi ketakutan, apalagi ketika musim hujan turun... Si pohon malah tampak seperti monster yang marah karena tumbuh makin tinggi dan memunculkan benda-benda bulat aneh yang lama-lama berubah warna jadi kekuningan si bapak dan si ibu mengira itu senjata si pohon mangga.

Sungguh menyeramkan....

Meski ketakutan tapi si bapak tetap mendendam pada si pohon mangga dan melemparinya dengan batu setiap hari. Biar si pohon mangga kesakitan lalu mati.



Suatu hari ketika sedang melempari si pohon tiba-tiba batu yang dilempar si bapak mengenai senjata si pohon, jatuh dengan cepat tepat mengenai hidung si bapak dan pecah.
Si bapak pun jatuh ke tanah, si ibu yang panik suaminya juga akan dibunuh segera membantu si bapak berdiri dan mengambil senjata si pohon yang tergeletak di tanah untuk dibuang jauh-jauh. Tapi si bapak tiba-tiba melarang.
  "Rasanya kok manis ya buk"
  "Ini racun pak"
  "Coba lihat sini"

Si ibuk yang takut suaminya dibunuh si pohon lebih takut kalau suaminya marah lalu menyerahkan senjata tersebut.
  "Manis buk"
Si bapak menggigit lagi.
Si ibu juga jadi penasaran, lalu dengan ragu ikut menggigit buah mangga yang mereka sebut senjata itu.
  "Wah, iya, manis pak, kayak istrimu"
Wa..ha..ha...
Mereka pun tertawa bersama.
Dan hidup bahagia bersama si pohon mangga.

Tamat

Ceritanya habis kopinya juga habis...
Mau kopi lagi?
☕☕☕☕☕☕
Silahkan diminum sob.
Monggo di unjuk kopine😁

Semoga cerita singkat di atas bisa menghibur sobat semua dan...
Saya mau mengucapkan selamat hari kemerdekaan indonesia yang ke 74. Semoga negeri tercinta kita ini menjadi negeri yang lebih baik lagi, dan memiliki masyarakat yang lebih baik lagi.

Semoga banyaknya masalah untuk indonesia menjadikan negeri ini makin dewasa.

Semoga kemerdekaan ini selalu terjaga untuk selamanya.

Semoga nggak ada kerusuhan yang timbul karena sikap tamak dan egois lagi.

Semoga jika ada masalah bisa selesai dengan jalan musyawarah tanpa perdebatan yang menimbulkan rasa benci.

Mari bersama-sama kita memeluk indonesia😘😘😘

See you...

28 komentar

  1. Bagus ceritanya, cuman saya agak protes nih, itu ceritanya anaknya jatuh kenaa ada bunyi mbek nya?
    Ada kambing kah di situ? hahahahahaha

    Btw kalau baca kopi saya jadi ngiler tapi juga takut lambung bermasalah lagi, jadi biarlah saya terngiler saja membayangkan kopi enak hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. Iya mbak, ada kambingnya itu.
      "Si jalu" kambingnya si anak....πŸ˜πŸ˜‚

      Ganti aja kopinya pakai jus mbak, lebih sehat dan enak...
      Ngomongin jus, malah saya yang ngiler....

      Hapus
  2. wkwkwk sumpah lucu, ngakak banget gue bacanya, lucu banget.. lucu kayak yang punya blog wkwk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha...ha... Entah kenapa saya suka dibilang lucu😁,
      Mue he..he...

      Hapus
  3. Welah si bapak dan si ibuk ini gimana tu
    Sudah tahu anaknya budeg, kenapa tidak pakai bahasa isyarat
    Kan kasihan.
    Dah sini saya bagi buah mangganya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tuh, si bapak sama si ibu belom blajar bhasa isyarat mungkin.
      Tahunya bahasa kalbu....

      Bahas mangga jadi pengen rujak ya😁

      Hapus
  4. Antara pengen ketawa sama nggak tega anaknya harus meninggal :( tapi senyum-senyum sampai mereka tahu bahwa pohon itu berbuah manis..hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kematian si anak untuk menyadarkan si bapak dan si ibu kalau ada makanan di depan rumah mereka.

      Semoga ia diterima di sisi Allah ya...😊😁

      Hapus
  5. Semoga banyak yg baca cerita ini sehingga semakin bersyukur bahwa kita tinggal di negara pancasila. Cinta damai, guyub rukun adalah budaya asli bangsa ini,....semoga setiap kali makan buah mangga jadi teringat dgn semua ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin... Semoga para pemirsah pada mampir kemari.

      Semoga doa kita untuk indonesia terwujud semua😊

      Hapus
  6. Waduh, ternyata senjatanya adalah buah mangga ya.
    Cukup menghibur juga sih mbak, apalagi kalo pikiran lagi puyeng kayak gini karena tanggal tua..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
    (Kok malah curhat.)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha...ha.. Curhat tanggal tua nih.... Paham, saya paham mas....
      Memang tanggal tua waktunya kepala pusing, dompet kering...πŸ˜‚

      Hapus
    2. Biarlah tanggal tua dompet kering, yang penting kita masuk kejora.

      Kelompok jomblo ceria...πŸ˜‚

      Hapus
    3. Hiya... Julukan baru buat para jomblo ya masπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  7. kasian kenapa si anak harus meninggal, kenapa gak tumbuh besar aja dan sama-sama merasakan manisnya buah mangga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he... Takdir mbak, karena si anak lah yang bikin si bapak sama si ibu dendam sama si pohon mangga dan balas dendan yang malah mendatangkan berkah😊😁

      Hapus
  8. bagus ceritanya mbaa..
    haha, lucu, masa bapaknya ngelemparin pakai kotoran kambing dll.. jelas jadi tambah besar yaaa wong dilempari pupuk.. hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha...ha.. Iya tuh, si bapak bermaksud jahat tapi jadinya baikπŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus


  9. Kak, ceritanya menarik. Tapi, andai aku jadi ibunya, aku pasti akan menebang pohonnya. Eh, mereka malah merawat.
    Oh ya, kenapa anaknya jadi meninggal ya? Kan kasihan nggak bisa merasakan mangga juga. Baca-baca dari komen di atas, anaknya tuna rungu begitu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mbk, anaknya tuna rungu.
      Yah gimana donk, saya juga kasihan karena anaknya pergi ke surga duluan, tapi kalau nggak gitu si bapak sama si ibu nggak nyadar ada pohon mangga dengan buat lezat di depan rumah mereka.

      Dan saya nggak tahu mau bikin kelanjutannya gimana😁

      Hapus
  10. Wkwkwkwk... Ada-ada aja ya kelakuan orang jaman dahulu. Balas dendam aja caranya kayak gitu. πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balas dendam yang berpahala dan menguntungkan ituπŸ˜‚

      Hapus
  11. Gak bisa komen nyimak aja ah.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon