ADIKMU DIBUNUH (Cerpen)

ADIKMU DIBUNUH (Cerpen)

Hola... Apa kabar semuanya....๐Ÿ˜
Semoga selalu sehat dan ceria ya...
He...he..

Karena judulnya agak ngeri, jadi pembukaannya harus ceria biar nggak pada takut bacanya.

Duh... Entah kenapa penulis bikin cerita dengam judul ngeri begitu.
Mungkin karena berita di tv sekarang serba ngeri, jadinya si penulis terinspirasi dari kengerian yang kemudian bisa melahirkan cerita ngeri begitu...

(Mbulet parah ngomongnya...)

Ya sudahlah....
Intinya satu kok....
Dibaca ya yang dibawah๐Ÿ‘‡

ADIKMU DIBUNUH


Via.pixabay

Pukul 8 malam ibu mendatangiku, badannya gemetar, matanya merah penuh airmata.
  "Adikmu, dibunuh" setelah itu ia jatuh ke lantai.
Aku yang sudah gelisah jadi semakin kalut melihat kondisi ibu. Kuraih ponsel, menekan beberapa kali, suaraku terbata-bata.
   "Bang--putri--dibunuh"

suara bang Darwin tak terdengar di telingaku, aku meracau tidak jelas, lalu ikut ambruk, terduduk di lantai.


----

Mayat putri ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Ada banyak luka tusuk di tubuhnya, darah berceceran di lantai kamarnya, bahkan dinding biru itu ikut terkena darah, seakan putri mencakarinya sebelum mati.

Ibu tak berhenti menagis sampai mayat putri dibawa warga ke ruang tamu dengan dibungkus selimut. Aku berdiri di samping ibu, ketakutan.
  "Akan kutelfon polisi" bang Darwin kakak pertamaku berkata.
  "Tapi bang, apa harus sekarang?"
  "Ini harus segera ditangani" bang Darwin pun hampir menangis, ia mengusap wajahnya, berjalan menjauh dari aku dan ibu.

Sejak dulu putri memang sangat dekat dengan bang darwin, bisa dibilang putri adalah adik kesayangannya.

Aku menatap tubuh putri yang terbungkus selimut, adikku--dibunuh, kepalaku terasa pusing sekali, jika aku tak ingat ada ibu disampingku aku pasti sudah jatuh ke belakang.

  "Putri, putri anakku..." kulihat mata ibu yang sudah bengkak, rambutnya yang sudah keputihan berantakan, keluar dari gelungannya.

kuusap pundak ibu, aku mengajaknya duduk agar ia lebih tenang. Jauh di dalam diriku aku pun ingin ditenangkan.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Polisi datang setengah jam kemudian, mayat putri dibawa dan rumah ibu dikosongkan selama beberapa waktu. Aku pun menemani ibu di rumah bang darwin, membiarkan kuliahku kosong selama 2 hari.

Sehari sebelum putri meninggal, aku sempat bertengkar dengannya. Dia marah padaku, benar-benar marah sampai mendorongku dengan keras. Ya, putri memang agak kasar, ia pemarah sekali. Setiap kali permintaanya tidak dituruti ia akan bertindak kasar.
Suatu kali ketika aku lupa membelikan makanan titipannya ia berteriak padaku, mengataiku macam-macam. Atau ketika aku tak sengaja menjatuhkan ponselnya, dia dengan sengaja membanting ponselku.
Tapi ketika suasana hatinya sedang baik, ia akan jadi orang yang sangat ramah. Karena itu orang-orang menyukai putri. Ia punya banyak teman, dan penggemar tentunya, karena putri juga cantik. Orang-orang sering bilang ia mirip artis.

  " kenapa tidak jadi model saja, atau artis" seringkali orang berkata begitu.


Senyum putri selalu jadi jawabannya, diam-diam aku tahu, dia sebenarnya sudah jadi model majalah dewasa.

Baca juga : Lee (cerpen)

Banyak hal tentang putri yang tak diketahui siapapun, tapi aku tahu. Mungkin itu sebabnya ia tak terlalu menyukaiku. Hubungan kami pun tak seperti saudara pada umumnya.

Tapi aku menyayangi putri, karena dia adikku. Seberapa sering pun dia menyakitiku, aku tetap memaafkannya.
"Dia masih terlalu muda" selalu begitu pikirku. Tapi usia putri sudah menginjak 22 tahun, apa dia terlalu muda untuk berpikir bahwa sikapnya padaku sangat salah?  Tidak, dia tahu itu dan dia sengaja melakukannya.
Kurasa aku pun mulai sakit hati.
Meski begitu, aku masih berusaha memperbaiki hubungan di antara kami. Kubawakan makanan kesukaannya setiap kali aku gajian dari kerja part time ku, menanyakan kabarnya, kuliahnya.  Sampai kusadari aku hanya buang-buang waktu. Sikapnya justru semakin menyebalkan dan seenaknya sendiri.

Lalu 3 hari yang lalu, aku memergokinya dengan pacar barunya di taman. Putri memang suka gonta-ganti pacar, ia bisa mendapatkan pria mana saja yang dia mau.
Semudah ia berganti pacar, semudah itu pula ia mencampakan mereka. Aku hanya takut jika ada yang sakit hati dan melukainya, tapi putri tak pernah mau mendengarku.

Sesampainya ia dari taman, aku langsung membentaknya, putri tidak terima. Kami berdebat, adu mulut selama bermenit-menit, untungya ibu sedang tidak di rumah. Aku yang kalut menampar pipinya, putri membalas dengan mendorongku sekuat tenaga, aku terbentur di dinding lalu terduduk sambil terisak.
Jika ingat kejadian itu, aku ingin menagis lagi. Semakin ke sini, aku sadar sikapku sangat kekanakan, harusnya aku tak begitu pada putri, dia tetaplah adikku, kami lahir dari rahim yang sama, tumbuh besar bersama, aku juga yang mengajarinya mengaji dan mengerjakan Pr. Seandainya saja aku bisa menguasai diriku, oh, putri yang malang, adikku.

Aku benar-benar kehilangan dia.

Jika dingat-ingat, putri mulai bersikap kasar dan nakal sejak 5 tahun lalu setelah ayah meninggal. Hari ketika ayah dimakamkan putri berteriak padaku, dia membenciku. Saat itu aku tak memikirkan sebabnya, sekarang aku ingat sesuatu. Akulah penyebab ayah meninggal. Itu bukan kecelakaan biasa, jika saja aku tidak kembali ke tengah jalan untuk mengambil  bukuku, ayah tidak akan tertabrak.

Putri sangat dekat dengan ayah dan ia menyalahkanku atas tahun-tahunnya yang berlalu tanpa kasih sayang ayah.

Mendadak suasana di luar siang itu menjadi ramai. Aku mendengar bang Darwin bicara dengan 2 orang polisi berseragam, mereka lebih terlihat sedang berdebat. Aku dan ibu duduk di sofa ruang tamu, kuremas tangan ibu, matanya sembab, ia tak berhenti menangis sejak berhari-hari ini, kepergian putri sungguh mengancurkan hatinya.
Kedua polisi itu masuk ke dalam rumah, diikuti bang darwin yang berwajah bingung, matanya menatapku cemas, seolah menanyakan sesuatu.

  "Maaf, saudari ratu, anda ditangkap karena diduga menjadi tersangka pembunuhan adik anda." ibu terkesiap, menatapku dengan matanya yang kebingungan, diremasnya tanganku, meminta penjelasan.
Aku tak bisa menjawab, airmataku mengalir lebih dulu,
  "Maaf bu, maaf" aku mencium tangannya. Membiarkan polisi membawaku dengan borgol di tangan.

Ibu tak bergerak dari tempatnya. Sementara bang Darwin berteriak padaku, minta penjelasan sekaligus berusaha menahan kepergianku.
Seandainya, seandainya putri tidak berkencan dengan pacarku, aku tak akan membunuhnya. Seandainya....

END

Baca juga : Bujo (cerpen)

Kasus-kasus kriminal sekarang sering bikin saya geleng-geleng kepala. Terlalu miris dan nggak berperasaan. Bahkan hubungan darah sudah nggak bermakna lagi kalau terselip kebencian.
Huft.... Semoga kita semua terhindar dari hal-hal seperti itu ya sob....
Karena sepertinya manusia sekarang terlalu mudah kalah dengan perasaan, terlalu menuruti kata hati tanpa pikir pakai logika.

Baperrr mulu....

Hiyaaa... Bijak banget saya, jadi malu๐Ÿ˜‚
Udah ah...

See you๐Ÿ‘‹

23 comments

  1. Mantap! Tinggal polisi carinbukti bahwa dia pembunuhnya. Buat si aku sulit/lama mengaku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He..he.. Makasih mas๐Ÿ˜, karena merasa bersalah dan takut jadi si aku pun nggak ngaku-ngaku...

      Delete
  2. Wah... Ending yang tak terduga.

    ReplyDelete
  3. Plot twist yang renyahhhhhhh๐Ÿ‘๐Ÿ‘......
    Kenapa gk dikirim ke media lokal/nasional saja. Lumayan loh kalau tembus Kompas dapat fee gede??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas...
      Pengen banget sebenernya kirim naskah ke media tapi masih belum PD nih, masih latihan...

      Semoga ke depannya bisa lebih baik๐Ÿ˜

      Delete
    2. Kirim aja udah, gausah nunggu PD. Kirim dulu ke koran lokal seperti fajar, haluan, radar surabaya, minggu pagi, dll. Saya yakin kalau cerpen seperti ini banyak kemungkinan bisa dimuat.

      Delete
    3. he...he... makasih atas dukungannyamas, insyaallah saya juga berencana mau kirim cerpen ke media. semoga saja ditolaknya nggak banyak-banyak.

      Delete
  4. duh endingnya diluar dugaan, dan latar belakangnya gak kepikiran klo karna adiknya merebut pacar si aku.

    Keren mba

    ReplyDelete
  5. Begitu aku baca sampai tengah cerpen aku sudah duga, pembunuhnya pasti orang yang dekat dengannya, ternyata tak salah..๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mas agus pinter nih. Ada bakat jadi fbi kayaknya....๐Ÿ˜

      Delete
  6. Seru sekali ceritanya mbak Astria apalagi endingnya,...nggak nyangka yg bunuh kakak kandungnya sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas aris. Gegara nonton berita di tv sih...๐Ÿ˜

      Delete
  7. Seru nih mengaduk-aduk emosi... Suka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. He..he.. Syukur deh, nggak ngaduk-ngaduk perut kan....

      Delete
  8. alur kisahnya kayak lukisan surealis kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa aja mbak anissa, saya suka banget lho sama lukisan surealis๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜

      Delete
  9. Wah ceritanya menarik ya kak.. serem tapi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbk, seremnya itu yang saya suka pas nulis๐Ÿ˜

      Delete
  10. Karyanya bagus sekali Mbak, coba deh dibuat dalam bentuk buku yang isinya kumpulan cerpen, siapa tahu bakal laris.... :)

    Ntar kalau sudah dibikin buku, buat saya gratis yah,hahaha..... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga aja ya kang, amin....

      Bisa ae kang nata cari gretongan๐Ÿ˜‚

      Delete
  11. Saya paling menghindari baca-baca tulisan pembunuhan, soalnya jadi ngeri sendiri, lebih ngeri dari kisah horor itu mah hahahah.
    Tapi tulisan yang ini beneran bagus, selalu salut dengan imajinasi teman-teman yang hebat dalam menulis cerpen :)

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon