Makna cerpen "dia yang tak bicara"

Makna cerpen "dia yang tak bicara"

Jadi ternyata kemarin itu banyak yang nggak paham arti dari cerita super singkat yang saya tulis. Kayaknya emang saya doang yang paham, gegayaan bikin cerita sok dramatis..he..he...

Karena itu saya akhirnya bikin ulang cerita "Dia yang tak bicara" itu dalam bahasa yang lebih bisa dimengerti dan cerita yang lebih panjang....

Silahkan diminum...

Eh, dibaca....😁

Mau sambil minum juga boleh, tapi ambil sendiri di dapur masing-masing ya.

Kalau mau dari saya, saya sediakan seadanya. Kopi online...
☕☕☕

DIA YANG TAK BICARA
Via.we heart it

Dia adalah wanita yang pendiam, bisa dibilang ia tidak pernah bicara. Bahkan orang-orang yang baru pertama bertemu denganya pasti mengira ia bisu.
Tapi dia bisa bicara, dia hanya tak mau bicara. Dia selalu mengunci mulutnya rapat-rapat. Aku tahu, kenapa dia diam. Dia mungkin mencoba melupakan kejadian itu.
Semua orang punya kisah kelam di masa lalunya.
Termasuk dia, dan aku.

Aku membencinya, sangat membencinya. Kata benci saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku padanya. Jika boleh, aku ingin membunuhnya, tapi aku tak segila itu. Mungkin membiarkannya hidup dalam kesepian akan jauh lebih menyakitkan buatnya dan sakit buatnya adalah kesenangan buatku.

Kami punya kisah yang saling terhubung, karena dia saudaraku. Ibu menikah lagi dengan seorang duda beranak satu setelah 3 tahun ayah meninggal. Saat itulah aku dan adikku berkenalan dengan Dia.
Kami menghabiskan banyak waktu bersama layaknya saudara kandung. Kami saling berbagi dan menyanyangi.

Tapi....
Suatu malam, rumah kami kebakaran... Aku panik dan berlari keluar, lupa dengan adikku yang masih tertidur di kamarnya. Aku berusaha masuk lagi tapi semua orang menarik dan melarangku. Waktu itulah aku melihat dia berdiri di jendela lantai dua. Adikku tepat berada di jendela sebelahnya, mengetuk-ngetuk kaca yang tertutup rapat.
Aku menjerit, memintanya membuka jendela itu, tapi dia hanya diam di sana, menatap adikku dari balik kaca sampai adikku kehabisan nafas, sementara ia berhasil selamat.

Sejak hari itu aku membencinya dan sejak hari itu pula ia tak pernah bicara lagi. Ia selalu melamun di depan jendela kamarnya, entah apa yang ia pikirkan. Aku tak mau peduli, aku muak melihat wajahnya.

Terkadang jika ibu dan ayah tak ada di rumah aku akan mengerjainya, aku tahu dia hanya akan diam jadi aku menamparnya beberapa kali, mendorongnya ke tembok sampai kepalanya terbentur keras. Aku tahu sikapku padanya kejam tapi apa yang dia lakukan pada adikku jauh lebih kejam.
Aku membencinya karena alasan itu, aku menyimpan dendam padanya.

Hari itu aku datang ke kamarnya di lantai 2. Ayah dan ibu sedang pergi ke rumah saudara selama 2 hari jadi kami di tinggal sendirian di rumah.

  "Hallo saudaraku yang kejam" aku menyapanya.

Seperti biasa ia hanya diam, tatapan matanya penuh kekosongan.

  "Kau tahu, kita hanya berdua. Apa kau mau main seperti kemarin, aku bisa menamparmu lagi kalau kau kalah. Atau kau mau permainan baru. Aku membawa korek api" kunyalakan korek api di tanganku.

Dia masih tak peduli, duduk membelakangiku. Sungguh aku ingin menendangnya keluar jendela.

  "Lihat kemari, bodoh" aku membentaknya. Tapi dia masih saja diam.

  "Kau ini benar-benar bodoh ya, kau tahu aku ini sangat membencimu. Aku ingin kau mati. Mati sana bodoh... Wajahmu itu membuatku ingin muntah." aku berteriak, berjalan cepat ke arahnya lalu dengan keras kudorong tubuhnya. Dia menoleh dengan wajsah terkejut, melawanku yang berusaha mendorongnya keluar jendela.

Baca juga : Hati yang baru (cerpen)

Baca juga : Jangan asal bicara (pengalaman)

Pada akhirnya dia terjatuh ke lantai, terduduk dengan tatapan ketakutan.

Melihat itu aku semakin marah padanya.

  "Wah... Kau masih mau hidup, berarti kau mau bermain denganku, akan kutunjukan permainan baru padamu" aku berjalan ke meja belajar yang sudah bertahun-tahun tak pernah disentuhnya. Kuambil sebuah buku di sana.

  "Lihat ini, aku akan melemparkannya padamu"

Mungkin aku sudah tampak seperti orang kerasukan, aku tak peduli, yang kuinginkan hanya melukainya.
Kunyalakan korek api dan membakar buku itu.

  "Kau ingat, kau tahu ini apa? Kau harus tahu bagaimana rasa sakitnya." aku mendekatkan kobaran api itu padanya.

Tiba-tiba... Dia menjerit sangat keras...
Mulutnya yang selama ini terkunci rapat, meracau tidak jelas.

  "Jangan... jangan... Aku takut ibu....
Jangan bunuh aku..."

Apa katanya...? Ibu?

  "Jangan bunuh aku, aku tidak akan menyentuh anakmu lagi...jangan..jangan bunuh aku...panas..panas..." dia semakin meringkuk ke pojok kamar.
Memenuhi ruangan itu dengan tangis dan jeritannya.

Aku berdiri di tempatku, gemetar.

Apa yang sudah kulakukan?

Ingatanku berputar ke masa lalu.

Apa yang sudah dilakukan ibu padanya?

Beberapa kali ketika dia mulai tinggal bersama kami, ibu selalu bilang padaku dan adikku untuk tidak terlalu sering main dengannya, ibu bilang dia punya penyakit jiwa, tapi aku tak percaya.
Kami main bersama tiap hari.

Beberapa kali pula, aku mendapati dia ketakutan setiap kali ibu berada di dekatnya. Luka-luka lebam yang kulihat tersembunyi di punggungnya saat kami mandi bersama, juga luka bakar di perutnya.

 "Aku hanya ceroboh" begitu jawabnya setiap kali kutanya.

Dia mulai menjaga jarak dengan aku dan adikku.
Mulai jadi penyendiri.
Sikapnya mulai membuatku penasaran. Tapi lagi-lagi ibu melarangku mendekatinya.

Pernah suatu kali ketika aku pulang sekolah lebih cepat, aku mendengar jeritan dari kamarnya. Waktu itu dia memang tidak masuk karena demam.
Aku berlari menaiki tangga dengan langkah lebar, tapi yang kutemui saat sampai di lantai atas adalah ibu yang baru saja keluar dari kamar dia....
  "Ada apa bu?"
  "Kau sudah pulang?" ibu tak menjawab pertanyaaku, dan balik bertanya dengan ekspresi yang aneh, seolah ia menyembunyikan sesuatu padaku.

Waktu itu ibu bilang "kakakmu itu, lagi-lagi kambuh. Jangan mendekatinya ya"
Lalu kenapa ia menaruh pisau dibalik punggungnya?

****

Aku semakin gemetar, tubuhku jatuh terduduk dilantai yang dingin dengan buku yang terbakar di antara aku dan dia, asap mengepul menyentuh langit-langit kamar.


Dia menjerit lagi, matanya nyalang menatapku.

  "Jangan-bunuh aku... Panas..." dia menjerit lagi..."

Apa yang sudah dilakukan ibu padanya?
Aku menangis.

  "Berhenti bicara" kataku...

Tapi dia terus saja meracau di pojok kamar...
Aku mulai tidak tahan dengan suaranya, atau aku sebenarnya terlalu merasa malu dan bersalah atas tidakanku selama ini, atas tindakan ibuku yang sudah jahat padanya.
Kututup telingaku rapat-rapat... Aku tak mau mendengar tangisannya, aku ingin dia diam lagi menatap keluar jendela seperti hari-hari biasa.

Tapi matanya, aku melihat lebih banyak kesakitan melalui tatapan matanya. Airmataku jatuh makin deras.
Apa yang sudah terjadi padanya dulu?
Apa ibu sungguh menyiksanya?
Apa semua bekas luka waktu itu berasal dari ibuku.
Apakah di sini akulah orang jahatnya.
Akulah yang dengan kejam menghakiminya tanpa mencari tahu penyebabnya.
Akulah yang sudah membuat kepalanya berdarah, membuat pipinya lebam dan membuat ayah ibu mengira ia gila.
Apa aku orang yang kejam?
Aku menutup telingaku makin erat, aku tak mau melihatnya. Kututup mataku.

Gelap, sepi, sesak yang kurasakan di dadaku seperti akan merenggut hidupku, panas dari api yang berkobar masih terasa hangat di kulitku.
Tubuhku gemetar hebat, keringat menetes dari sela-sela rambutku.

Inikah.. Hidup yang selama ini ia rasakan.
Hampa yang menyakitkan....

Aku menjerit sekeras mungkin, namun tak bisa mendengarnya.

Mungkin aku sudah gila.

END




Apa masih nggak jelas ya....
Intinya kisah ini menceritakan tentang "aku" yang membenci tokoh "dia" karena tragedi kebakaran di rumahnya yang merenggut nyawa adik kesayangannya.  Tapi ternyata "dia" punya kisah kelam dibalik alasannya tak bisa menyelamatkan adiknya "aku"

Si "aku" yang menyadari hal itu kemudian merasa sangat bersalah. Dendamnya selama ini tenyata tak sebanding dengan trauma parah yang dialami tokoh "dia"

Begitulah kira-kira....

He..he...

See you....

20 comments

  1. Yang namanya tidak tahu
    Dan terbawa oleh emosi akibat dari adik yang meninggal terus punya curiga terhadap saudara barunya.
    Tapi tak apalah, dengan kejadian ini kan terus tahu.
    Trauma dengan masa lalu itu sungguh menyakitkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trauma dengan masa lalu itu sulit untuk dihapus, bagi orang lain yang belum mengalami mungkin biasa aja, tapi yang udah mengalami...
      Punya trauma itu nggak enak banget

      Delete
  2. Abis baca cerpen ini jadi ingat film Korea yang judulnya "a tale of two sisters", kisah tokoh utamanya mirip ya mbak, ia merasa bersalah pada saudaranya...πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film itu, saya pernah lihat di drakor id, itunkan film horor ya... Belum pernah nonton sih, padahal pengen.
      Soalnya masih takut😁

      Delete
  3. Oh ini penjelasan dari cerita kemarin ya mbak karena ada yg masih belum paham termasuk saya hehehe,...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas aris, karena ternyata banyak yang belum paham jadi saya klarifikasi
      He..he..he..😁

      Delete
  4. Kisah ini seperti sebuah lukisan surealis, mengedapankan karakter melalui komplikasi perasaan dan kegelapan jiwa.

    Karakter digambarkan melalui komplik yang sesungguhnya adalah refleksi dari imajinasi diri sendiri.

    Suram, gelap namun menyentuh sisi manusiawi. Kamu seorang wanita dan teman yang sulit di eksplorasi jiwanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wadauw....
      Komentarnya mas sofyan mendalam banget.
      Tapi saya suka...saya suka...😁

      Delete
  5. Aku juga sependapat dengan Kak Sofyan, cerita ini tentang kegelapan yang disampaikan dari menyalahkan diri sendiri.
    Btw, iya juga kata Kak Agus Warteg, aku jadi inget film atau drama Korea dong...

    Tapi, untuk keseluruhan dari makna cerpen dia yang tak bicara ini, bagus, detail dan menjelaskan dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jadi pengen nonton film korea itu, tapi harus cari temen dulu biar nggak nonton sambil tutup mata....😁

      Delete
  6. Cerpennya menarik sekali.

    sewaktu masih remaja saya demen bangezt baca cerpen,apalagi pas ketemu cerpen di Majalah Kuno,serasa mendapat harta karun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kang...
      Sama dong kang, saya dulu pas jamannya sekolah kalau nemu cerpen gitu, senengnya kayak dapat uang saku tambahan. Soalnya dulu belum ada perpus

      Delete
  7. Ya ya.. sya nangkap sekarang. Saya malah kepikiran trauma anak yang mungkin kecilnya dididik keras sama ortunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. He..he.. Alhamdulilah udah paham😊, kisah yang lain tersembunyi mas.

      Delete
  8. Dikumpulin mbak cerpen-cerpennya siapa tahu jadi buku. Diksi-diksinya mba anjani bagus loh. Heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbk ajeng, he..he.. Semoga aja ke depannya bisa jadi buku beneran ya😊

      Delete
  9. luar biasa sangat menarik sekali

    ReplyDelete
  10. Aku keliling-keliling blogmu nih. Termasuk cerpenmu yang ini. Gaya bahasa blogmu enak, kayak orang ngomong langsung. Tapi semoga, ke depannya soal ejaan bisa diperbaiki. Ejaan ini fungsinya, biar yang baca tahu kapan berhenti dan ambil napas juga tahu mana nama tokoh hingga mana kalimat penjelas waktu.

    Yah, kuharap untuk cerpen-cerpenmu selanjutnya, kamu nggak terlalu memikirkan orang menangkap apa dari cerpenmu, Astria. Justru penangkapan orang yang macam-macam itu sisi serunya cerpen. Mulai tulis, publikasi lalu lepaskan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng deh di komentari mbk poppy yang jago bikin cerpen😊, saya emang paling bingung kalau soal ejaan dan tanda baca. Dari dulu masalah saya kalau bikin tulisan ya itu....
      Sampai pernah ngafalin fungsi dan cara peletakan tanda baca yang benar segala tapi masih aja bingung.
      Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi mbk....😊😊😊

      Delete


EmoticonEmoticon